Setelah seminggu aku keluar dari rumah sakit, aku berangkat berlibur ke Bandung bersama temanku Kiki. Kami berangkat dengan pesawat mampir ke Jakarta dan bermalam 1 hari di sana, aku bermalam di rumah Sammy di daerah Pondok Indah, kebetulan rumah itu kosong dan aku dapat pinjaman, di sana hanya dijaga 2 orang pembantunya yang selalu siap membersihkan dan menjaga rumah tetap bersih dan siap dihuni setiap saat. Sebenarnya aku bisa saja nginep di rumah Kak Johnny yang di Jakarta di daerah Tebet atau di rumah orang tuaku di Jl. Sam Ratulangi Menteng demikian juga dengan Kiki, rumahnya sendiri hanya ibunya dan 1 adik perempuannya saja yang tinggal ditemani oleh seorang pembantu tua.
Tapi kami sengaja mau sembunyi dari keluarga kami dan tidak ingin kedatangan kami diketahui oleh keluarga yang lain, lagian seharian kita cuman di rumah aja... kebetulan di rumah Sammy ada kolam renang di halaman belakang, jadi ya... kita asyik di sana. Temanku Kiki ini orangnya bertubuh tinggi sekitar 169 Cm, ukuran dada 36C dan berkulit putih, rambut sepunggung.
Sampe di rumah Sammy sekitar jam 5 sore, dan kami tiba dengan taxi dari Bandara... dalam rumah yang cukup besar itu kami diberi kamar tamu yang posisinya di sebelah kamar Sammy, kamar Sammy sendiri menghadap ke kolam renang...sedang kamar Donna adiknya ada di lantai 2. Semua kamar di sini memiliki kamar mandi dalam yang cukup luas... untuk kamar tamu yang kami gunakan kamar mandinya paling tidak ukuran 4 x 6 meter dengan semua perabotan dari granit dan dinding marmer Italy... di sudut kamar mandi ada bath cup corner. Di samping salah satu sisnya ada kaca besar menghadap ke taman samping... dan kamar itu sendiri berukuran sekitar 6 x 8 meter.
Setelah meletakkan barang bawaan kami, kamipun berganti pakaian renang, Kiki menggunakan bikini mini sekali berwarna kuning muda dan aku pake celana renang mini warna hitam. Kamipun menuju ke kolam renang... sementara Kiki membasahi tubuh di shower dekat kolam renang aku langsung loncat ke tengah dan melakukan renang gaya bebas beberapa kali panjang kolam sebelum akhirnya menepi dan menunggu Kiki masuk dalam kolam. Kami bermain dan berenang sambil becanda... sampe aku merasa cukup akupun istirahat di bibir kolam dengan tiduran terlentang, aku pejamkan mataku beberapa menit sampe tiba-tiba aku merasakan jari lentik Kiki mengelus pahaku dan dilanjutkan dengan menelusuri permukaan celana renangku... beberapa menit Kiki melakukannya dan aku diam saja... tapi aku juga merasakan meriamku mulai menegang mendapat elusan dari Kiki. Aku buka mata memandang langit yang mulai remang mo gelap... aku lihat balkon loteng yang tampak dari posisiku, aku lihat pembantu Sammy yang ada di balkon itu sedang melihat aku dielus Kiki, dan aku lihat dari bawah maka aku dapat melihat pahanya yang mulus... orangnya tidak terlalu tinggi, kulitnya putih ( maklum orang Sunda ), meriamku makin menegang memandang pemandangan paha tersebut dan sadar aku lihat diapun mengalihkan perhatian dan pura-pura terus mengelap pagar balkon yang terbuat dari stainless steel itu.
Kiki rupanya ngga' puas dengan cukup mengelus dari luar... dia mulai turunkan celana renangku dan mengeluarkan meriamku dan dikulumnya meriamku dengan hangat dan penuh nafsu. Kembali aku lihat pembantu yang tadi melihat lagi kearah kami dan kali ini cuman sebentar karena melihat aku sedang memandang ke atas. Lama juga Kiki ngisep meriamku... saat sudah meradang banget... tiba-tiba kakiku ditariknya dan akupun keceber ke kolam... kami berdiri sambil berciuman dan tangan Kikipun masih meremas-remas meriamku... aku coba membuka celananya dengan menarik tali kecil di pinggulnya... sret... terbuka sudah celana itupun langsung tenggelam.
Aku mulai memasukkan meriamku ke sela-sela paha Kiki... disambut dengan tuntunan oleh Kiki dan diarahkannya langsung ke dalam lobangnya yang menjanjikan kehangatan. Kamipun berpelukan sambil pinggulku bergoyang kanan dan kiri perlaha karena dalam air rada sulit menggerakkan badan... cukup lama kami bermain sambl berdiri... sampe Kiki bilang " Joss dari belakang aja " dan diapun mencabut meriamku dan bersandar dibibir kolam yang agak rendak sekitar sepinggang... dan akupun menyodoknya dari belakang dan Kikipun menunggingkan pantatnya. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa permainanku diintip dari atas oleh si pembantu tadi... pasti itu. Berlagak tidak sadar aku teruskan permainanku.... sampe pada saatnya aku sudah hampir mencapai klimak... aku ajak Kiki ke kolam yang agak rendah... aku duduk ditangga kolam... terendam sampe ke pinggulku dalam posisi duduk... dan Kiki menaikiku dari atas... dia menghadap ke arahku... dia maju mundurkan pinggulnya dan aku meremas dadanya yang menggiurkan itu... diapun mengerang tanpa berpikir lagi bahwa tidak hanya kita berdua saja yang ada di dalam rumah itu. Erangannya makin panjang dan akhirnya diapun mengejang hebat... aku juga ngga' mau ketinggalan aku percepat goyanganan pinggulku dan kamipun mengalami ejakulasi bersamaan... di antara orgasme itu aku sempatkan melemparkan pandanganku ke atas dan aku sempat melihat pembantu yang tadi masih mengintip dan tidak sempat lari sembunyi karena saking terpakunya.
Kami keluar dari kolam dengan apa adanya... aku telanjang bulat dan Kiki hanya menggunakan BH bikininya yang menggantung di lehernya... karena sudah terbuka saat permainan tadi... dan CDnya ditentengnya dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya menggandeng pundakku. Kami berjalan ke arah dalam rumah untuk selanjutnya mau mandi dan istirahat... tapi pas melewati ruang makan kami terkejut karena saat itu ada pembantu yang lainnya lagi sedang membereskan meja makan untuk makan malam kita. Pembantu itupun kaget karena melihat kami sedang telanjang... danm sudah dapat diduga apa yang terjadi sebelumnya pada kami. Diapun buang muka dengan acuh melintas ke dapur melanjutkan kerjanya seakan tidak melihat kami... dan kamipun langsung masuk kamar...
Abis mandi Kiki hanya mengenakan kimono handuk tanpa daleman... dan duduk di ranjang... " Ki... kamu tau ngga' waktu kita main di kolam tadi ada pembantu yang lihat kita ? " tanyaku. " Yang mana ? " tanya kiki ngga' tau. " Yang satunya Ki yang badannya tinggian " kataku. " Kok kamu ngga' bilang kalo kita lagi diintip... malu khan ? " kata Kiki lagi. " Tanggung Ki lagi enak main ntar ngrusak acara " jawabku asal. " Gimana kalo kita kasih pelajaran 'tuh pembantu ? tanyaku.
" Pelajaran gimana... ? " tanya Kiki bego. " Kita ajak dia main sama kita bertiga " usulku. " Boleh juga... tapi enak di kamu donk " sungut Kiki.
Selesai makan malem kita nonton TV di kamar sampe jam 9 malem dan pas berita... aku panggil pembantu tersebut ke kamar untuk memijit aku... dan saat dipijit aku hanya menggunakan CD minim banget... warna cream... tapi pijitnya mulai dengan kaki dan aku tengkurap... Kiki duduk di samping ranjang dan asyik baca majalah...
Pijitannya akhirnya sampe di pangkal pantatku dan aku minta agak lama di situ karena capek aku bilang... setelah dipijit-pijit daerah itu aku mulai konak dan aku balik badan... sehingga meriamku yang setengah berdiri tampak sekali " Sekarang depannya " kataku... diapun mulai memijit paha depanku... dia duduk di lantai samping ranjang dan aku tiduran di tepi ranjang... tangan kiriku dapat agak bebas dan dengan mata terpejam aku gerakkan sedikit-sedikit tanganku untuk mencari dadanya... akhirnya dapat... kesenggol dikit... dikit lagi... dan makin lama makin sering kesenggol... kaya'nya dia cuek aja... " Kaki kanannya sekarang " kataku untuk mulai pijit paha kananku... dengan demikian tangannya akan melalui atas meriamku... dia mijit sekitar pinggul kananku. Dan sesekali lengannya memang nyenggol meriamku yang setengah meradang... itu yang aku usahakan dari tadi... dan tangan kiriku beberapa kali telah menyenggol dan mengusap dikit-dikit ke dadanya. " Agak tengahan mijitnya " perintahku... dan tangannyapun pindah lebih ke tengah dan hampir mencapai meriamku... Sepuluh menit kira-kira telah berlalu dan aku perintahkan lagi " Agak ketengahan lagi ".
Dan kali ini telapak tangannya benar-benar menindih meriamku... dan diapun tetap memijit terus... tapi pijitannya sudah tidak terlalu keras... mungkin capek atau apa aku ngga' jelas... yang aku rasakan cuma nikmat... tanganku aku beranikan mulai mengelus... kalo tadi cuman pura-pura nyenggol sekarang sengaja ngelus dadanya...
Dia diam tidak bereaksi... sampe lama aku makin berani dan aku selusupkan tanganku dalam bajunya.... aku elus permukaan dadanya di atas BHnya dan dia masih diam saja... aku masukkan jari-jarikuku dalam BHnya dan mulai meremas dadanya... mencari putingnya... dan pijitannya mulai berubah menjadi remasan di meriamku... aku ikuti dengan menggoyang pinggulku sehingga pijitannya terasa naik turun di meriamku. Aku lorotkan CDku dengan tangan kanan dan " Coba bantu aku lepas celana ini " kataku. Diapun membantunya... sampe lolos CDku. Aku pegang tangannya dengan tangan kananku dan aku atur supaya dia mengocok meriamku... setelah tangannya menggenggam meriamku aku pegang tangannya dari luar dan aku kocokkan... " Nah gini " lalu aku lepas tangan kananku dan tangan kiriku masih memainkan dadanya... aku coba buka kancingnya dan meloloskan tali BHnya... sekarang BHnya sudah tersingkap dan aku lebih mudah untuk meremasnya... sampe aku sudah ngga' kuat lagi karena nafsuku makin tinggi dan meriamku makin membesar... aku minta dia untuk isep meriamku... " Ampun Den... " katanya menolak... tapi aku tetap maksa... " Ayo isep... tadi khan kamu sudah dapet pelajarannya... kamu khan sudah lihat caranya, sekarang kamu praktekkan " kataku. " Ampun Den... jangan saya takut " blep... selesai ngomong langsung aku benamkan kepalanya dan meriamkupun masuk dalam mulutnya... terus aku ayun kepalanya dengan tanganku supaya maju mundur... akupun duduk di sisi ranjang dan dia ngisep dari depanku sambil tetap duduk di lantai.
Tanganku kini bebas dan mulai melucuti pakaiannya... dia agak meronta ( malu kali... soalnya ada Kiki dalam kamar itu ). Baju dan BHnya sudah terlepas... dan kini dengan kedua tanganku aku mainkan dadanya... Kiki ngga' lama kemudian bangkit dan mulai duduk di sampingnya serta mulai mengelus tengkuknya... membantu memberi rangsangan... seperempat jam kira-kira aku diiesep kaya' gitu... sampe aku udah ngga' tahan lagi ingin melahap tubuhnya yang sekel banget.... akupun berdiri dan aku tuntun tangannya membantu dia untuk berdiri dan aku perintahkan dia untuk rebahan di ranjang... Setengah kita paksa akhirnya pembantu itupun tiduran di ranjang... aku rentangkan pahanya dan langsung aku tindih... tangannya mendorongku dan bilang " Ampun Den... jangan... saya belum pernah beginian... " katanya memelas. " Kamu tadi khan sudah lihat seekarang kamu rasakan... gimana enaknya " kataku setengah marah ( pura-pura galak ) dan kiki mambantu memegang kedua tangannya dari atas kepalanya... sehingga dia hanya bisa gerak kanan kiri... aku tindih abis dia dan aku langsung arahkan meriamku keliang senggamanya. Aku paksakan menekannya agak keras... gagal... aku coba lagi... aku bantu dengan tuntunan tanganku... aku gosokkan meriamku di bibir liangnya... liangnya sedikit basah... karena terangsang tadi saat ngisep dan diremas dadanya... aku paskan kepala meriamku dan aku genggam batangnya lalu dengan tenaga penuh aku dorong pinggulku... masuk sebagian saja kepalanya.... aku tahan dan kembali aku tekan lebih keras lagi... kini masuk sudah setengah batangnya.... aku putar sedikit kanan kiri pinggulku dan aku akhirnya berhasil membobol kegadisannya... diiringi dengan jeritan kesakitannya dan tangisnya... " Aduh..... Den... sakit... udah Den... jangan.... stop Den sakit... " gitu rengeknya... buat aku ibarat desahan rangsangan yang makin meninggikan semangat juangku dan aku tidak menggubrisnya malah aku makin menggila mengayun pinggulku... tanganku memeluk pundaknya dari belakang sehingga benar-benar tidak bisa bergerak dia...
pembantu itu tetap merintih dan minta aku berhenti... sekitar 20 menitan dan aku berhenti... aku cabut meriamku... " Sudah ya Den... " katanya sambil mau keluar... aku langsung menarik lagi lengannya dan aku suruh dia membungkuk di samping ranjang dan Kikipun ambil posisi tiduran di pinggir ranjang dengan mengangkangkan pahanya... aku suruh dia ( pembantu itu ) nungging sambil ngejilatin memek kiki... lalu dari belakang aku embat lagi... aku berpegangan pada pinggulnya dan gerakanku kali ini tidak kalau dasyatnya dengan sebelumnya... Kiki memengangi kepalanya dan mengajarinya ngejilat yang bener.
Aku ngerasa sekali kalo meriamku mentok di dasar liangnya dan sengaja aku kucek abis liangnya... lama juga aku main dengan gaya itu... sesekali tanganku berpindah dari pinggul ke dada... lalu balik pinggul lagi... sampe akirnya tidak ada lagi penolakan terasa... dan ngga' lama kemudian aku merasakan kalo tubuhnya mengejang... rupanya dia sudah mencapai orgasme dan berarti pula dia bisa menikmati...
Dia mulai lemas dan jilatannya pada Kiki kurang berasa... itu tampak dari Kiki yang menggoyang kepala si pembantu makin keras... aku sodok makin keras sehingga secara tidak langsung kepalanya ikut goyang maju mundur dan dia tinggi julurkan lidahnya sudah terasa oleh Kiki... Kiki mulai mengerang... tanda sebentra lagi mo selesai... akupun menggiatkan ayunanku sambil meremas dada si pembantu tadi... aku akhirnya keluar juga... aku semprotkan di dalam liangnya... dan Kiki juga mencapai puncaknya pada saat yang bersamaan denganku. Akupun rebah mendorong si pembantu itu menindih kiki... " He..eek " terdengar dari mulut Kiki.
Tak lama kemudian aku bangkit dan aku lihat si pembantu itu masih kelelahan dan tubuhnya masih menindih Kiki... aku kunci pintu kamar dan aku bawa ke kamar mandi... aku cuci badan dari keringat dan aku lihat darah perawan di antara meriamku. Aku sengaja mengambil kunci terseut takut kalo si pembantu lari keluar... karena aku masih mo nambah lagi malam ini.
Setelah aku selesai cuci aku suruh Kiki dan si pembantu tadi cuci juga... dan aku ajak sekalian tidur bertiga... dan akhirnya kesampaian kami tidur bertiga dan malam itu aku bersama Kiki menghajar habis dalam beberapa kali permainan... sampe si pembantu itu lemas... dan dia bilang " Udah Den... saya mau nglayani Aden main gini... tapi sekarang sudah ngga' kuat badan saya lemes banget Den... "
Pagi sekitar jam 5 dia bangun dan membangunkanku " Den bangun Den... saya mau keluar... nanti temen saya tau kalo saya tidur di sini nanti dibilangin sama neng Sammy... saya takut Den " katanya... lalu aku berikan kunci kamar itu dan diapun keluar kamar... sementara aku tidur lagi dengan memeluk Kiki... kami baru bangun setelah jam 9 pagi. Sebelum aku berangkat ke bandung aku panggil pembantu tadi dan memerintah dia supaya mencuci sprei yang kita pake tadi malem karena ada noda darah di sana... ngga' lupa aku kasih di uang 200 ribu sebagai imbalan atas perawannya. Dia menolak dan aku bilang " Ini buat kamu beli pakaian nanti ". " Ngga' usah Den... saya juga suka kok tadi malem... pertamanya sich takut... tapi enak kok " katanya sambil senyum.
" Nanti pulang dari Bandung ke sini lagi ya Den... sama neng Kiki... nanti kita gitu lagi kaya' semalem " katanya sambil senyum... senyumnya kali ini aku ngga' ngerti maksudnya. Tapi dalam hatiku... wah dia mulai ketagihan.
Jam sebelas kami baru meninggalkan Jakarta dengan sejuta kelelahan... tapi nikmat...
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Sex 4. Tampilkan semua postingan
Rabu, 04 Februari 2015
Menaklukan Kakak Ipar
Aku memang ketagihan bermain cinta dengan wanita setengah baya alias STW. Ada lagi pengalaman nyata yang kualami. Pengalamanku menaklukkan kakak iparku yang pendiam dan agak religius. Entah setan mana yang merasuki diriku karena aku menjerumuskan orang baik-baik kedalam neraka nafsu.
Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari
Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.
Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.
Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.
Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini. Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.
Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.
Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.
“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumha ini,” kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.
Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas smengetok pintu kamar Uni. “Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung.
“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.
“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi ngak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.
“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja. Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.
“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Daam usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.
Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.
Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku……..Uni masih diam.
Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.
Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”
“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya.
Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.
Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam ….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda.
Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.
Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan meneyka badan serta mukanya.
“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.
Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni. Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya.
“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.” Cerita Uni sebelum kami sama-sama tertidur pulas.
Kejadiannya begini, suatu hari rumahku kedatangan tamu dari Padang. Uni Tati kakak tertua istriku. Dia datang ke Jakarta karena tugas kantor ikut seminar di kantor pusat sebuah bank pemerintah. Uni adalah kepala cabang di Padang, Uni menginap dirumah kami. Dari pada menginap di hotel, mendingan juga uang hotel disimpan buat beli oleh-oleh. Selama seminggu dia tinggal dirumahku. Dari istriku kutau kalau Uni Tati berusia 40 tahun. Suaminya sudah meningal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Orangnya cantik, putih, tinggi semampai. Lebih tepatnya kubilang anggun karena orangnya cenderung diam dan sangat religius. Selama di Jakarta, setiap ada kesempatan aku dan istriku mengajak Uni jalan-jalan, maklum ini kunjungan pertamanya ke Jakarta, biasanya ke mal karena waktunya sempit. Kami sudah berencana pas hari Sabtu akan jalan-jalan ke Taman Safari
Tiba hari Sabtu, istriku ternyata punya tugas mendadak dari kantor yaitu harus mengawasi pameran di Mangga Dua. Gagal deh rencana jalan-jalan ke Taman Safari. Istriku mengusulkan agar aku tetap mengantar Uni jalan-jalan misalkan ke Ancol saja dan pulangnya bisa jemput istriku di Mangga Dua. Sebetulnya aku agak males kalo nggak ada istriku. Aku merasa risih harus jalan berdua Uni karena orangnya pendiam. Akupun menduga Uni pasti nggak mau. Tapi tanpa dinyata ternyata Uni menyetujui usul istriku.
Pagi-pagi banget istriku sudah berangkat naik KRL dari stasiun Pondok Ranji. Rumahku yang didaerah Bintaro cukup jauh dari Mangga Dua dan Ancol. Sementara menunggu Uni yang lagi jalan-jalan pagi aku sendirian dirumah menyeruput kopi dan merokok. Kami berencana jalan jam 10 pagi. Sehabis ngopi dan merokok, aku kembali tidur-tiduran di kamarku menunggu jam. Pikiranku melayang membayangkan kakak istriku ini. Uni Tati sangat menarik perhatianku secara sexual. Jeleknya aku, mulia keluar. Aku tertantang menaklukkan wanita baik-baik, aku tertantang menaklukkan Uni. Mumpung ada kesempatan. Dasar setan selalu mencari kesempatan menggoda.
Kuatur jebakan untuk memancing Uni. Aku buru-buru mandi membasuh badan dan keramas. Dengan berlilit handuk aku menunggu kepulangan Uni dari olahraga paginya. Sekitar 10 menit aku menunggu dibalik horden dan kulihat Uni memasuki pagar depan dengan pintu besi yang agak berderit. Sengaja pintu rumah aku tutup tapi dibiarkan tak terkunci. Aku berlalu menuju kamarku dan segera memasang jebakan untuk mengejutkan Uni. Aku masuk kamarku dan segera bertelanjang bulat. Pintu kamar kubuka lebar-lebar, jendela kamar juga kubuka biar isi kamar mendapat penerangan jelas.
Kudengar pintu depan berbunyi seperti ditutup. Akupun mulai beraksi. Dengan bertelanjang bulat aku menunggu Uni melewati kamarku dengan harapan dia melihat tubuh dan juniorku yang sedari tadi berdiri tegak membayangkan petualangan ini. Handuk kututupkan ke kepala seolah-olah sedang mengeringkan rambut yang basah sehabis keramas. Aku berpura-pura tidak melihat dan tidak menyadari kehadiran Uni. Dari bakik handuk yang kusibak sedikit, kulihat sepasang sepatu kets melintas kamarku. Aku yakin Uni pasti melihat tubuhku yang polos dengan junior yang tegak berdiri.
Nafsuku semakin menggeliat ketika kuamati dari balik handuk sepasang sepatu yang tadinya hampir melewati kamarku kini seperti terpaku berhenti didepan kamar tanpa beranjak. Aku semakin aktif menggosok-gosok rambutku dan berpura-pura tak tau kalo ada orang. Beberapa detik aku berbuat begitu dan aku merencanakan sensasi berikut. Dengan tiba-tiba kuturunkan handuk dan menengok ke arah pintu kamar. Aku pura-pura kaget menyadari ada orang. “E..eee…maaf Uni, aku kira nggak ada orang,” kataku seraya mendekati pintu seolah-olah ingin menutup pintu. Aku tidak berusaha menutup kemaluanku yang menantang. Malah kubiarkan Uni terdiam memandangi tubuhku yang polos mendekat kearahnya.
Dengan tenagnya seolah aku berpakaian lengkap kudekati Uni dan sekali lagi memohon maaf.
“Maaf ya Uni, aku terbiasa seperti ini. Aku nggak sadar kalau ada tamu dirumha ini,” kataku sambil berdiri didepan pintu mau menutup daun pintu.
Tiba-tiba seperti tersadar Uni bergegas meninggalkanku sambil berkata “i…i…iya , tidak apa-apa…..”. Dia langsung masuk ke kamar belakang yang diperuntukkan kepadanya selama tingal dirumahku. Aku kemudian memakai celana pendek tanpa CD dan mengenakan kaos oblong lantas smengetok pintu kamar Uni. “Ada apa Andy,” ujar Uni setelah membuka pintu. Kulihat dia tidak berani menatapku. Mungkin malu. Membaca situasi seperti itu, aku tidak menyiakan kesempatan. “Uni, maafkan Andy ya…aku lupa kalau ada tamu dirumah ini,” kataku merangkai obrolan biar nyambung.
“Nggap apa-apa, cuma Uni malu hati, sungguh Uni malu melihat kamu telanjang tadi,” balasnya tanpa mau menatap aku. “Kenapa musti malu? Kan nggak sengaja, apa lagi Uni kan sudah pernah menikah jadi sudah biasa melihat yang tegak-tegak seperti itu,” kataku memancing reaksinya.
“Sejujurnya Uni tadi kaget setengah mati melihat kamu begitu. Yang Uni malu, tanpa sadar Uni terpaku didepan kamarmu. Jujur aja Uni sudah lama tidak melihat seperti itu jadi Uni seperti terpana,” katanya sambil berlari ketempat tidurnya dan mulai sesenggukan. Aku jadi ngak tega. Kudekati Uni dan kuberanikan memegang pundaknua seraya menenangkannya.
“Sudalah nggak usah malu, kan cuma kita berdua yang tau.” Melihat reaksinya yang diam saja, aku mulai berani duduk disampingnya dan merangkul pundaknya. Kuusap-usap rambutnya agak lama tanpa berkata apa-apa. Ketika kurasa sudah agak tenang kusarankan untuk mandi aja. Kutuntun tangannya dan sekonyong-konyong setan mendorongku untuk memeluk saat Uni sudah berdiri didepanku. Lama kupeluk erat, Uni diam saja. Mukanya diselusupkan didadaku. Payudaranya yang masih kencang serasa menempel didadaku. Sangat terasa debar jantungnya. Perlahan tangaku kuselusupkan ke balik kaos bagian belakang berbarengan dengan ciumanku yang mendarat dibibirnya.
“Jangan Ndy…dosa,” katanya sambil melepaskan diri dari pelukanku. Namun pelukanku tidak mau melepaskan tubuh sintal yang sedang didekapnya. Daam usaha kedua Uni sudah menyerah. Bibirnya dibiarkan kulumat walau masih tanpa perlawanan. Ucoba lagi menyelusupkan tangan dibalik kaosnya, kali ini bagian depan. Tangan kanan yang menggerayang langsung pada sasaran…putting susu sebelah kiri. Uni menggeliat.
Pilinan jariku di payudaranya membuat nafsunya naik. Aku tau dari desiran nafasnya yang mulai memburu. Aku heran juga dengan wanita ini, tetap diam tanpa perlawanan. Mungkin ini style wanita baik-baik. Bagusnya, semua apa yang kulakukan tidak ada penolakan. Seperti dicocok hidungnya Uni menurut saja dengan apa yang kulakukan terhadapnya.
Perlahan kubuka kaosnya, kubukan celana panjang trainings pack-nya, kubuka Bh nya, kubuka CD-nya , Uni diam saja. Kubopong tubuhnya ketempat tidur. Kubuka kaosku, kubuka celana pendekku……..Uni masih diam.
Lidahku mulai bermain disekujur tubuhnya. Dari ujung kepala, turun ke telinga, ke bibir, ke leher…perlahan kusapu dadanya, payudaranya kulumat dengan gigitan kecil…turun lagi kebawah, pusarnya kukorek dengan lidahku….turun lagi ke sekumpulan rambut dan kedua pahanya hujilat-jilat terus sampai keujung jempol kaki. Aku tidak merasa jijik karena tubuh Uni yang putih bersih sangat membangkitkan gairah.
Kukangkangkan kakinya, uni masih diam saja. Tapi kuamati matanya terpejam menikmati sentuhan tiap jengkal ditubuhnya. Baru ketika kudaratkan sapuan lidahku di bibuir vagina dan klitorisnya Uni tiba-tiba berteriak ,” Ahhhhhhhh……..”
“Kenapa Uni….Sakit?,” tanyaku. Uni hanya menggeleng. Dan aktifitas jilat menjilat vagina itu kulanjutkan. Uni menggelinjang dahsyat dan tiba-tiba dia meraung..”Andyyyyyyy… ayo Andy….jangan siksa aku dengan nikmat…ayo Andy tuntaskan….Uni udah nggak tahan,” katanya.
Aku tidak mau berlama-lama. Tanpa banyak variasi lagi langsung kunaiki kedua pahanya dan kutusukkan juniorku kelobah surganya yang sudah basah kuyup. Dengan sekali sentak semua batangku yang panjang melesak kedalam. Agak seret kurasakan, mungkin karena sudah dua tahun nganggur dari aktifitas. Kugenjot pantatku dengan irama tetap, keluar dan masuk. Uni semakin menggelinjang.
Aku pikir nggak usah lama-lama bersensasi, tuntaskan saja. Lain waktu baru lama. Melihat reaksinya pertanda mau orgasme , gerakan pantatku semakin cepat dan kencang. Uni meronta-ronta , menarik segala apa yang bisa ditariknya, bantal, sepre. Tubuhku tak luput dari tarikannya. Semua itu dilakukan dengan lebih banyak diam. Dan tiba-tiba tubuhnya mengejang, “Ahhhhhhhhhhhhhhhh…….,” lolongan panjangnya menandakan dia mencapai puncak. Aku mempercepat kocokanku diatas tubuhnya. Tiba-tiba aku didikejutkan dengan hentakan tubuhnya dibarengi tanganya yang mendorong tubuhku. “Jangan keluarin didalam ….aku lagi subur,” suaranya tresengal-sengal ditengah gelombang kenikmatan yang belum mereda.
Kekagetanku hilang setelah tau reaksinya. “Baik Uni cantik, Andy keluarin diluar ya,” balasku sambil kembali memasukkan Junior ku yang sempat terlepas dari vaginanya karena dorongan yang cukup keras. Kembali kupompa pinggulku. Aku rasa kali ini Uni agak rileks. Tapi tetap dengan diam tanpa banyak reaksi Uni menerima enjotanku. Hanya wajahnya yang kadang-kadang meringis keenakan.
Dan sampailah saatnya, ketika punyaku terasa mulai berkedut-kedut, cepat-cepat kucabut dari vagina Uni dan kugencet batang juniorku sambil menyemprotkan sperma. Kuhitung ada lima kali juniorku meludah. Sekujur tubuh Uni yang mulus ketumpahan spermaku. Bahkan wajahnyapun belepotan cairan putih kental. Dan aku terkulai lemas penuh kenikmatan. Kulihat Uni bagkit mengambil tisu dan meneyka badan serta mukanya.
“Andy…kamu sudah memberikan apa yang belum pernah Uni rasakan,” kata wanita cantik itu sambil rebahan disampingku.
Dengan persetujuan Uni, kami menelpon istriku mengabarkan kalau batal ke Ancol karena Uni nggak enak badan. Padahal kami melanjutkan skenario cinta yang menyesatkan. Kami masih tiga kali lagi melakukan persetubuhan. Dalam dua sessi berikut sangat kelihatan perkembangan yang terjadi sama Uni. Kalo permainan pertama dia banyak diam, permainan kedua mulai melawan, permainan ketiga menjadi dominan, permainan keempat menjadi buas….buas…sangat buas. Aku sempat memakai kondom biar bisa dengan leluasa menumpahkan sperma saat punyaku ada didalam vaginanya.
“Aku sadar ini dosa, tapi aku juga menikmati apa yang belum pernah aku rasakan selama bersuami. Suamiku itu adalah pilihan orang tua dan selisih 20 tahun dengan Uni. Sampai Uda meninggal, Uni tidak pernah merasakan kenikmatan sexual seperti ini. Sebetulnya Uni masih kepengen nikah lagi tapi tidak pernah ketemu orang yang tepat. Mungkin posisi Uni sebagai kepala bagian membuat banyak pria menjauh.” Cerita Uni sebelum kami sama-sama tertidur pulas.
Horny Banged
Nama saya Eva , 22 tahun. Saya seorang mahasiswi yang sedang kuliah di Coventry, saya mengambil jurusan ilmu sosial. Sekarang saya ingin menceritakan pengalaman pribadi saya, jadi saya tidak lagi menceritakan tentang hasil riset saya bersama 2 teman saya.
Tanggal 11 Maret 2001, pukul 15:45 saya terbangun dari tidur siang saya, masih terasa semua badan saya letih dan pegal-pegal semua mungkin akibat dari perjalanan jauh saya tadi malam dari Lecce. Saya lihat sekeliling kamar saya masih berantakan, dan masih terlihat satu vibrator karet di sebelah komputer, majalah-majalah berserakan, baju-baju yang belum saya masukan ke dalam mesin cuci dan beberapa barang yang merusak pemandangan mata.
Sejenak saya berdiam dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, hingga akhirnya terdengar suara bel. Sesungguhnya masih malas sekali saya untuk menerima tamu pada saat itu. Tapi apa boleh buat, saya harus membukakan pintu.
Akhirnya dengan masih menggunakan kaos T-shirt dan celana pendek jeans dan rambut saya yang masih agak kusut sedikit, saya bukakan pintu. Wah, ternyata si Gillian yang datang, tampak ia membawa dua bungkus kantong plastik, entah apa isinya. Seperti biasa, ia langsung masuk ke dalam. Sambil berjalan masuk ia mengatakan bahwa ia baru membeli 2 kaset video blue film dan beberapa makanan ringan serta soft drink. Ia mengatakan pula bahwa ayah dan adiknya akan datang menengoknya tanggal 4 Maret. Ia tampak gembira sekali, masih tampak dengan jelas kelakuan teen. Ia langsung menuju ke dapur, ia buka refrigerator dan ia masukan beberapa kaleng minuman ringan sedangkan makanannya ia taruh di atas meja di dekatnya. Gillian adalah orang Italy, ia berumur 20 tahun dan ia adalah adik kelasku. Ia cantik sekali, badannya yang proposional, ia banyak digandrungi laki-laki di kampus.
Saya tidak peduli apa yang akan ia lakukan lagi setelah itu, sehingga saya memutuskan untuk masuk ke kamar dan berusaha merapikan dan membersihkan kamar saya yang sangat berantakan. Saya taruh barang-barang pada tempat semula saya ambil hingga beberapa kali saya keluar masuk kamar. Saya lihat sepintas Gill sibuk menyalakan video dan ia ingin melihat film yang baru ia beli. Saya vacum, saya lap pada bagian tertentu dan saya semprot sedikit dengan pengharum ruangan, setelah semuanya saya kira sudah cukup, saya mandi.
Cukup lama juga saya di dalam kamar mandi, saya ingin melepaskan semua rasa lelah saya yang masih tersisa. Saya berendam dengan air hangat, sambil mendengarkan musik dari radio dengan walkman.
Setelah selesai, saya berpakaian, dan saya tidak mendengar ada tanda-tanda kehidupan dari Gill, saya penasaran apa gerangan yang ia lakukan?
Oh My Godness, rasanya saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Gillian sedang menonton blue film sambil mengemil makanan kecil dan tampak sedikit berantakan. Ia tampak serius sekali melihat filmnya. Saya duduk di sebelahnya, dan menghadap ke TV, tampak di layar TV, satu perempuan sedang disetubuhi dengan 3 laki-laki. Kelihatannya Gill mengikuti dengan serius, ia tidak menggubris saya.
"Agh, blue film.. rasanya bosan sekali saya melihat blue film, adegan yang dipertontonkan hanya itu-itu saja, yang berubah hanyalah pemainnya saja. Huh..." pikir saya dalam hati melihat pertunjukan di TV. Akhirnya saya putuskan untuk tetap duduk dan posisi saya sedikit agak turun sehingga pangkuan pada tubuh saya hanyalah kedua siku dan pantat serta kepala bagian belakang saja. Karena saya tidak berminat apa-apa terhadap yang ada di TV, saya menerawang ke atas, saya memikirkan keluarga saya di Jakarta, saya jadi memikirkan mama, adik dan saudara-saudara. "Sedang apa ya mereka sekarang?" tanyaku dalam hati. Saya pun ingat pada beberapa kejadian dan kenangan manis dengan pacar saya William. Rasanya lama saya berkhayal sedangkan Gill tetap sibuk dengan kegiatannya. Hingga akhirnya, ia membuka pembicaraan yang sempat membuat saya kaget.
"Ev, apa kamu lihat begitu hebatnya pria Greek itu, dia begitu jantan sekali... Ooh, saya menjadi terangsang sekali.." katanya sedikit menggebu.
"Mmm... bolehkah saya masturbate di sini? Ev? Saya benar-benar ingin berfantasi berhubungan dengan keparat Greek itu.." tanyanya sedikit terbata-bata takut saya menolak dan mohon kepada saya untuk membolehkannya.
Saya diam sejenak, saya lihat ke arahnya, dan ia menengokku juga. Tampak sekali bahwa ia sudah benar-benar terangsang akibat dari apa yang telah ia lihat. Raut wajahnya terlihat merah padam seakan menyatakan akan gairah seksnya yang terpendam. Saya tersenyum padanya, saya benar-benar tersenyum melihat kelakuannya dan bahasa tubuhnya.
Tanpa menjawab pertanyaan sekaligus permintaannya, saya beranjak dari tempat duduk, saya bangkit dan menuju ke dalam kamar. Dalam perjalanan, Gill mengatakan pada saya sambil melihat saya ingin tahu ke mana saya pergi, ia mengatakan dengan memelas, "Saya benar-benar terangsang, Ev..."
Saya mengambil satu vibrator saya yang dapat bergetar dan bergerak naik turun kira-kira panjangnya 8 inches, dan saya keluar dari kamar, sambil membawa vibrator di tangan. Saya melihat wajah Gill begitu senang, ia tampak tersenyum. Manis sekali senyumannya. Saya serahkan vibrator saya pada dia sambil mengatakan, "Gill, kalau kamu mau masturbate, gunakan ini, ini akan sangat membantumu..." Setelah menyerahkan pada Gill, saya pergi ke dapur, saya mencari-cari makanan dan membuat 2 gelas teh. Saya benar-benar merasa lapar sekali. Saya ingat-ingat, terakhir saya makan adalah tadi pagi sekitar jam 04:30.
Saya membuat mie instan 2 bungkus sambil menunggu matang, saya intip Gillian dari kaca jendela. Astaga! Dia sudah masturbate! sedangkan pertunjukan yang ada di TV sudah berubah, tampak di layar TV seorang laki-laki yang sedang dikerjai oleh dua wanita, penisnya dihisap, sedangkan yang satunya lagi sedang menikmati setiap hisapan, jilatan laki-laki tersebut pada vaginanya. Tampak Gill sedang mengeluar-masukan vibrate milik saya, walaupun kurang jelas sebab ia duduk membelakangi saya.
Sekali lagi, saya tidak peduli dengan apa yang sedang saya lihat, saya tetap melanjutkan kegiatan saya memasak mie instant dan memakannya sendirian. Beberapa kali terdengar lengkuhan dan desahan Gill, rasanya ia menikmati apa yang sedang ia lakukan. Saya tetap makan dan menghabiskannya.
Setelah selesai, dan mencuci piring kotor serta membersihkan beberapa bagian yang kotor, saya kembali kepada Gillian. Pelan-pelan saya berjalan mendekatinya, hingga akhirnya saya berdiri beberapa meter di belakangnya. Saya dapat melihat dengan jelas apa yang dia lakukan, saya pun dapat melihat dengan jelas bibir vagina serta payudaranya yang bulat dan putih. Ia hanya menurunkan celana dalamnya hingga lututnya dan ia merenggangkan sedikit kedua pahanya. Ia sibuk mengeluar-masukan vibrate dengan frekwensi bervariasi, kadang pelan dan halus, namun kadang juga cepat dan sedikit kasar. Sedangkan tangan kanannya mengusap-usap bibir vaginanya bagian atas sesekali meremas payudaranya sendiri bergantian.
Wow, pemandangan yang sangat mengasyikan buat semua laki-laki tentunya. Namun saya sungguh tidak terangsang dengan apa yang saya lihat atas Gill sebab saya masih normal, saya hanya suka pada kaum pria. Memang saya akui bahwa saya sedikit terangsang tapi itu bukan karena melihat tubuh Gill, melainkan terangsang karena apa yang saya lihat dari apa yang ditayangkan di TV. Terlihat di layar TV, seorang perempuan memompa penis yang berada di dalam vaginanya sedangkan wanita yang lain, sedang berusaha menjilati penis yang sedang keluar masuk di dalam vagina temannya. Wow, fantastic!
Hingga akhirnya saya tidak tahan, saya raba sedikit kemaluan saya dari balik celana pendek saya. Beberapa kali saya melakukan rangsangan pada diri saya sendiri. Rasanya dengan posisi berdiri kurang nyaman, akhirnya saya putuskan untuk duduk di sofa dekat Gill. Ketika saya datang, rupanya Gill sedikit kaget, tampak dari tubuhnya yang sedikit tersentak melihat kehadiran saya.
Dia benar-benar tidak menduga, dan yang membuat saya ingin tertawa adalah pada saat itu pula ia orgasme, jelas sekali ia bergetar, dan mengeluarkan vibrate dari dalam vaginanya dan sambil merapikan posisi duduknya. Ia tampak nervous, sungkan, malu, entah apalagi. Sambil merapikan duduknya, ia agak berdiri dan berusaha merapikan pakaiannya terutama celana dalam yang berada di bawah dengkulnya pada saat ia berdiri.
Melihat sikap yang gelagapan yang dilakukan oleh Gill, mata saya melihat ada beberapa tetes lendir dari dalam vaginanya yang jatuh di karpet. Sepertinya ia tahu apa yang saya lihat, ia buru-buru menunduk berusaha untuk membersihkannya, namun dengan cepat saya katakan padanya sambil mendekatinya dan menepuk-nepuk pundak kirinya, "It's ok.. it's ok.. I can feel what's your feel.. it's ok... I'll not angry.."
Setelah itu saya masuk ke dalam kamar, saya mengulang kembali kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu sambil tersenyum sendirian. Pada saat saya membayangkan yang baru saja terjadi, terlintas dalam pikiranku bahwa saya ingin membeli roti di mini market dekat flat saya untuk sarapan besok sebelum saya berangkat ke kampus. Saya langsung meloncat dari tempat duduk lalu berdiri dan keluar dari kamar. Saya lihat di jam dinding menunjukan pukul 16:20, saya teringat bahwa Raymond dan Middleton teman saya ingin datang ke sini untuk mengerjakan tugas untuk besok. Mereka mengatakan bahwa mereka akan datang jam 17:00. Wah, saya benar-benar bingung mengingat waktu yang mungkin tidak cukup.
Akhirnya dengan sedikit terburu-buru, saya ambil sweater, jam tangan dan berganti celana panjang. Saya berlari kecil keluar kamar. Sambil berlalu, saya katakan pada Gill bahwa nanti andai ada Ray dan Middlenton datang, bukakan pintu, katakan pada mereka saya sedang keluar beli roti di blok 12. Belum terdengar jawaban dari Gill, saya langsung menutup pintu.
Akhirnya saya dapat berbelanja keperluan saya secepat mungkin dan saya kembali lagi ke flat. Sesampainya di depan pintu, saya lihat jam tangan saya menunjukan pukul 16:50. Ugh, lega rasanya, dan sepertinya masih ada waktu 10 menit lagi untuk mandi sebelum mereka datang. Setelah membuka pintu, saya kaget melihat bahwa ternyata Raymond dan Middleton sudah ada di dalam. Tampak Raymond dan Gillian sedang menonton TV yang acaranya sepak bola sedangkan Middleton sedang berusaha membuka sebuah botol wine dengan wine opener.
Setelah saya tanyakan kapan mereka tiba dan sedikit berbasa-basi, saya menghampiri Raymond dan membisikan dari belakang padanya tentang Gillian, sambil tetap membawa beberapa bungkus plastik belanjaan saya. Raymond rupanya tersentak, ia langsung menoleh pada saya dan menanyakan sekali lagi, untuk meyakinkannya dan saya jawab dengan anggukan saja dan ia pun tersenyum.
Saya pun menaruh barang-barang belanjaan saya, lalu saya pamit untuk mandi sebentar. Entah dari mana asalnya, pada saat saya mandi, terlintas kembali adegan film yang saya lihat sebelum saya pergi belanja. Saya begitu terangsang sekali hingga tanpa saya sadari saya menyabuni tubuh saya dengan lembut dan tangan saya melakukan hal-hal yang merangsang diri sendiri. Saya sentuh dengan lembut klitoris saya, saya remas dengan lembut payudara dan sesekali pula saya masukan satu atau dua jari tangan saya ke dalam vagina saya. Entah berapa lama saya melakukan itu, hingga akhirnya saya orgasme. Setelah itu saya mencuci vagina saya dan saya sabuni seluruh tubuh saya sekali lagi, terlintas dalam pikiranku, bahwa setelah ini saya akan Online di internet, saya akan menonton video XXX melalui internet.
Seperti niat saya di dalam kamar mandi, setelah saya berpakaian, saya nyalakan komputer untuk masuk dalam dunia cyber. Sambil menunggu connect, saya keluar sebentar untuk mengambil segelas air putih sambil ingin melihat apa yang sedang terjadi dengan teman-teman saya. Saya lihat, Middleton sedang menikmati wine-nya sambil ikut menyaksikan apa yang ditayangkan pada TV. Sekejap saya lihat apa yang ada di TV. "Ooo.. ternyata blue film lagi... wah, ini pasti idenya Raymond, tapi apa idenya Gill?" tanyaku dalam hati. Saya lihat Raymond dan Gillian sedang duduk dan serius memperhatikan film yang ada. Mereka kelihatan tegang sekali, bisa saya lihat dari raut wajah mereka berdua sedangkan Middleton tampak lebih santai sebab ia sambil menikmati wine yang ada di hadapannya. Saya tersenyum kecut melihat ini.
Setelah saya ambil satu botol air putih dan satu gelas kosong, saya kembali ke kamar saya sambil tetap melirik kelakuan teman-teman saya, saya kembali tersenyum dan saya lihat Middleton sedang meneguk wine-nya.
Saya lihat bahwa komputer saya sudah siap, dengan cepat saya connect, sambil menunggu permintaan saya untuk dapat menonton blue film di situs Swedenteen, saya check e-mail, siapa tahu ada kabar dari William atau dari keluarga saya, saya pun ingin memberi kabar pada mereka (termasuk William) bahwa mungkin pada akhir bulan Maret, saya akan pulang ke Indonesia, saya katakan bahwa saya libur 1 bulan (walaupun sebenarnya hanya kira-kira 2 minggu), saya sampaikan pula salam kangen dan salam sayang buat mereka dan pesan agar mereka menelepon saya sebab saya kangen dengan mereka.
Setelah gono-gini, akhirnya saya dapat menonton blue film, dan saya pilih orgy diantara banyak pilihan yang lainnya. Adegan demi adegan saya tonton dengan serius hingga akhirnya saya pun merangsang diri saya, saya raba dengan lembut vagina saya naik turun dari luar celana ketat saya, nampaknya sudah agak lembab oleh beberapa lendir yang keluar. Saya buka bra dan saya lempar ke tempat tidur, lalu saya remas dan berusaha menghisap sendiri payudara saya yang berukuran 34, saya mainkan puting saya, saya pilin dengan pelan-pelan dan lembut.
"Uuuh.. ahhh.." saya mendesah karena nikmat yang saya lakukan sendiri. Saya membayangkan bersetubuh dengan pria, saya bayangkan ada sebuah penis yang dapat saya kulum atau masukan ke dalam vagina saya seperti tampak pada monitor komputer. Beberapa kali saya mendesah pelan.
Tiba-tiba terdengar 2 kali pintu kamar diketuk dan langsung dibuka begitu saja tanpa menunggu jawaban dari saya, saya sungguh kaget. Terlihat Middleton muncul di balik pintu, sebelum ia mengatakan sesuatu, saya tanyakan padanya di mana Raymond dan Gillian. "Mereka telah memulai bersenggama, Ev.." jawabnya. Setelah mendengar jawabannya itu, saya dapat menyimpulkan apa maksudnya apalagi saya lihat di balik celana pendek Hawaii-nya terlihat penisnya menegang, entah itu gara-gara film atau gara-gara Raymond dan Gill. Saya tersenyum kecil. Sambil mengangkat tangan kanan saya dan menandakan supaya ia mendekat, ia pun mendekati saya yang masih duduk di depan komputer sedangkan di layar monitor tetap menampilkan blue film orgy. Setelah dekat, Middleton melirik ke layar monitor sedangkan tangan kanan saya, berusaha menjamah penisnya dari luar celana pendeknya.
Agh, akhirnya saya dapat memegang penisnya itu, dan Middleton tetap melihat pada layar monitor. Saya usap-usap sebentar dari luar penisnya sebelum saya turunkan celana pendek itu. Wow, ternyata dia sudah terangsang sekali, terlihat dari ukuran penisnya yang sudah keras dan besar. Saya turunkan sedikit celana pendeknya hingga tampak penisnya yang sudah tegang dan naik ke atas seolah-olah mengacung-acung. Saya remas dan saya kocok pada batang penisnya diiringi dengan mendekatkan kepala saya pada penisnya. Saya julurkan lidah saya pelan-pelan hingga mengenai ujung penis Middleton, saya kulum dengan begitu lembut dan saya berusaha menghayati atas setiap kuluman saya sendiri. Saya turunkan arah jilatan lidah saya pelan-pelan hingga melewati batang penis lalu pangkal penis sehingga saya dapat menikmati dua buah bola yang menggantung di bawah penis. Saya hisap dengan lembut satu demi satu bergantian. Saya lirik mimik Middleton. Aghh, rasanya ia pun menikmatinya, ia memejamkan matanya, ia mendesah dengan pelan. Ia pegang bagian belakang kepala saya dengan tangan kirinya seakan ingin mendorongkan kepala saya hingga saya dapat mengulum penisnya.
Saya mengarahkan lidah saya ke atas lagi setelah puas dengan dua buah bolanya, saya julurkan lidah saya hingga menyapu semua daerah yang dilalui oleh lidah saya hingga kembali lagi ke ujung penis, saya mainkan sebentar lidah saya di lubang penis, saya jilat lubang itu dengan tidak teratur ke kiri dan ke kanan sehingga kepala saya pun bergerak-gerak, tubuh Middleton bergetar atas kenikmatan yang ia rasakan.
Saya mulai mengulum penisnya sedangkan tangan kanan saya menaik-turunkan kulit pada batang penisnya. Ingin rasanya saya lumat dan masukan semua ke dalam mulut saya namun saya tidak mampu menelan semua itu, penisnya yang berurat dan begitu besar, hampir sama dengan vibrator yang saya miliki.
Ketika saya sedang menikmati setiap kuluman saya pada penis Middleton, tangan kanan dan kirinya memegang kepala saya lagi, gerakannya memaju-mundurkan kepala saya. Untung ia melakukan itu tidak lama sebab saya sudah merasa tidak dapat bernafas oleh tertutupnya semua rongga mulut saya dengan penisnya yang sesekali terdengar suara dari dalam mulut saya. Sebentar saya keluarkan penis itu dalam mulut saya dan saya menarik nafas beberapa kali dengan posisi tangan Middleton tetap pada belakang kepala saya. Ia cengkeram lebih kuat sedikit dan berusaha untuk mengangkat kepala saya. Sambil mengikuti arah tangannya pada kepala saya, tangan kiri saya memegang penisnya. Setelah wajah saya mendekat, dilumatnya bibir saya dan dimasukan lidahnya dalam mulut saya, ia mencari lidah saya, ia gigit kecil bibir bagian bawah sedangkan saya mengikuti alurnya dan tanga kiri saya tetap mengocok-kocok batang penis. Namun semua itu tidak lama, setelah kira-kira saya dapat melarikan diri dari ciumannya, saya kembali ke bawah, saya lepas lumatannya. Kembali saya kulum dengan penuh nafsu penis yang ada di hadapan saya. Saya hisap dalam-dalam semampu saya dan saya mainkan lidah saya sebentar di ujung penisnya.
"Aghhh..." desahnya. Saya tidak peduli dengan kenikmatannya, saya lanjutkan kuluman saya, saya tetap jilat setiap milimeter bagian penisnya hingga terasa ada rasa asin sedikit. Tanpa dikomando, saya berdiri dan mendekatkan wajah saya pada wajahnya, dilumatnya seisi mulut saya olehnya. Saya pegang penisnya dengan tangan kanan sambil sesekali mengocoknya sedangkan tangan kiri, saya gunakan untuk meremas beberapa kali pantatnya sambil meraba dengan halus.
"Ev, gantian saya duduk ya?!" katanya kemudian, dan ia pun duduk di depan komputer di mana saya duduki sebelumnya. Ia dorong sedikit ke belakang hingga kakinya sekarang dapat menjulur ke bawah. Tampak penisnya tegak berdiri mengarah ke atas dan bergerak ke kiri dan kanan sesuai dengan gerakan tubuhnya. Sambil mencari posisi yang nyaman, saya melepaskan seluruh pakaian saya mulai dari celana hingga bra saya. Ia langsung memegang vagina saya dengan tangan kanannya, ia mainkan bagian atas vagina saya dengan jempolnya. Ia gesek-gesekan dengan lembut. Ugh, enak sekali rasanya.
Karena saya pun sudah terangsang sekali, saya tidak memberi kesempatan pada Middleton untuk menimati vagina saya. Lalu saya bergerak melangkahi tubuh Middleton dengan arah menghadap ke layar komputer. Setelah saya rasa sudah pas, sambil tetap memegang penisnya dengan tangan kanan saya, perlahan saya turunkan tubuh saya perlahan-lahan hingga akhirnya ujung vagina saya menyentuh ujung penisnya. Perlahan saya turunkan, dan berusaha mendesakan penisnya agar dapat masuk ke dalam vagina saya dengan pantat. Terasa sudah mulai masuk pada bagian ujungnya, namun saya tetap berusaha untuk mendesakan lagi, saya turunkan perlahan-lahan tubuh saya. Dan akhirnya entah sudah berapa centi yang masuk dalam vagina saya, saya rasakan getaran pada tubuh saya sendiri. Saya tahan sebentar untuk menikmatinya lalu berusaha lagi untuk menurunkan tubuh saya. Oh nikmat sekali rasanya pada saat penis itu masuk lebih ke dalam, menusuk ke dalam di vagina saya. "Aghhh... sssttt.." desah saya menikmatinya.
Setelah dengan sedikit usaha saya tadi, akhirnya penis itu menyelinap masuk dan vagina saya menjepit dengan kencang dan Middleton memegang kedua belah pinggul saya dengan kedua tangannya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang saya rasakan pada saat penis Middleton menyelip diantara kedua buah bibir vagina saya.
Pelan-pelan saya mulai menaik-turunkan tubuh saya dan tangan saya bertumpu pada meja komputer. Saya kerahkan segenap kemampuan saya untuk bertahan, saya coba mengatur nafas yang terengah-engah. Kenikmatan yang saya rasakan membuat saya merasa tidak dapat bergoyang dengan cepat, dibantu dengan tangannya yang memegang erat pinggul saya, akhirnya saya dapat bergerak lebih cepat. Sesekali saya melihat vagina saya yang sedang naik turun, tampak sekali salah satu bagian vagina saya seolah-olah ingin ikut keluar pada saat saya menaikan tubuh saya. "Ooohh..." desahku beberapa kali menahan nikmat.
Setelah saya merasa terbiasa dengan penis Middleton yang cukup besar itu, saya mulai dapat menggoyangkan pinggul saya ke kiri dan ke kanan. Makin cepat saya menggerakan tubuh saya, semakin nikmat rasanya, dan akhirnya saya pun tidak dapat menahan puncak birahi saya. Pada saat saya ingin orgasme, saya tekan seluruh tubuh saya kuat-kuat ke bawah sehingga penisnya masuk ke dalam seluruhnya.
"Aagghhh..." saya tidak dapat menahan getaran pada tubuh saya pada saat saya menyemprotkan lendir dari dalam dan getaran pada vagina saya. Dan saya berdiam sebentar untuk menikmati setiap semprotan dari dalam tubuh saya. Saya lihat lagi sepintas ke bawah dan penisnya masih dengan kerasnya tetap berapa di dalam vagina saya.
Kembali saya gerakan tubuh saya naik turun, walaupun tidak seperti sebelumnya, saya coba untuk mengocok penisnya di dalam vagina saya. Semakin cepat gerakan saya, semakin keras desahan Middleton. Rasanya saya dihipnotis oleh kenikmatan yang saya rasakan. Middleton kembali memacu tubuh saya dengan tetap memegang pinggul saya dan sesekali meremas payudara saya yang bergerak naik turun tidak beraturan, ia pilin puting saya, ia remas sebelah kiri dan pindah ke sebelah kanan.
Ditengah-tengah gerakan saya naik turun dan sesekali menggoyangkan pingul ke kiri dan ke kanan, saya sadar dengan diri saya, saya menyadari apa yang sedang saya lakukan namun saya tetap melanjutkan gerakan saya. Entah setan dari mana, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah posisi saya, pada saat yang saya pikir tepat, saya pegang penisnya dan saya berbalik. Sehingga sekarang saya dapat melihat wajah Middleton. Saya kecup bibirnya dan saya lumat lidahnya beberapa waktu, saya arahkan kembali penisnya untuk masuk ke dalam vagina saya. Kembali lagi seperti yang saya lakukan sebelumnya, saya lakukan perlahan untuk memasukan penis itu.
Sekali lagi saya merasakan kenikmatan yang sungguh menyenangkan pada saat penis itu mulai masuk ke dalam vagina saya. "Eessstt..." desah saya sambil memejamkan mata.
Kembali saya genjot tubuh saya naik turun, saya gerakan pula pinggul saya hingga terlihat Middleton mendesah dan sesekali menjulurkan lidahnya. Tangan Middleton yang sebelumnya memegang pinggul saya, sekarang meremas-remas kedua payudara saya dengan sesekali memilin puting saya yang sudah keras. Ia pegang payudara yang bergerak naik turun dengan liarnya hingga sekarang payudara saya hanya 'dapat berdiam diri' pada tempatnya saja.
Entah berapa lama saya melakukan ini dan menikmati setiap kenikmatan dari setiap gerakan saya, hingga akhirnya Middleton mempercepat gerakan dan menarik kepalaku untuk mendekat pada wajahnya. Ia cium dan lumat bibir saya, ia mainkan lidahnya dalam mulut saya sambil melingkarkan kedua tangannya pada punggung saya.
Rasanya cukup lama juga kami berciuman dan melumat satu sama lain dan ia melepaskannya dan mengatakan pada saya bahwa ia sudah ingin klimaks. Semakin cepat gerakan tubuhnya menaik-turunkan pantat saya agar semakin cepat pula penisnya dikocok oleh vagina saya. Sambil mengikuti gerakannya, akhirnya saya putuskan untuk menghentikannya dan saya ingin mengulum penisnya agar saya dapat menikmati spermanya nanti. Benar saja, dalam hitungan detik, setelah saya cepat-cepat melepaskan penis itu dari dalam vagina saya, ia mengeluarkan sperma. Kira-kira dua atau tiga semburan pertamanya sempat mengenai rambut dan pipi saya namun cepat-cepat saya membuka mulut dan saya berusaha mengulum penisnya sehingga spermanya itu masuk ke dalam mulut saya.
Ugh, nikmat sekali, semburan spermanya sempat mengenai langit-langit dalam mulut saya, setelah kira-kira sudah habis, sebagian yang ada di dalam mulut, saya keluarkan dan sisanya saya telan. Setelah itu, saya jilat-jilat pada ujung penisnya itu, beberapa kali tubuh Middleton bergetar. Saya kulum lagi penisnya dan saya hisap lalu saya diamkan beberapa waktu di dalam mulut sambil memainkan lidah saya di dalam.
Uh, saya raba dengan telapak tangan kanan saya ke atas mulai dari pinggul hingga mengenai puting susunya dan mengenai bulu dadanya, sedangkan tangan kiri saya tetap memegang dan menggenggam penis yang masih di dalam mulut. Beberapa kali saya melakukan kuluman dan jilatan pada bagian ujung penis. Lalu saya bergerak ke atas perlahan, saya cium dan lumat bibirnya, mungkin masih tersisa rasa spermanya sendiri, terlihat dari beberapa kali ia berusaha menghindar dari ciuman saya namun saya tetap berusaha melumat bibirnya, saya julurkan lidah saya, saya jilati daerah luar bibirnya.
Akhirnya saya memeluk erat tubuh Middleton, saya peluk semampu saya sebab tubuhnya lebih besar dari saya. Saya letakan kepala saya dan menghadap ke kiri pada dadanya yang bidang. Oh My Godness, saya lihat Raymond dan Gill sedang berdiri di depan pintu, mereka melihat saya, rupanya mereka melihat beberapa adegan yang telah saya lakukan. Buru-buru saya bangkit dan saya mengambil pakaian saya dan saya hampiri mereka. Saya tanyakan bagaimana dengan seks mereka, dan saya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh saya, sedangkan Midlleton bangkit lalu berpakaian, rupanya ia tidak peduli dengan kehadiran Ray dan Gill.
Sebelum saya memasuki kamar mandi, sepintas saya lihat bahwa Gill dan Ray sedang duduk di sisi luar ranjang saya sedangkan Middleton sibuk berpakaian.
Tanggal 11 Maret 2001, pukul 15:45 saya terbangun dari tidur siang saya, masih terasa semua badan saya letih dan pegal-pegal semua mungkin akibat dari perjalanan jauh saya tadi malam dari Lecce. Saya lihat sekeliling kamar saya masih berantakan, dan masih terlihat satu vibrator karet di sebelah komputer, majalah-majalah berserakan, baju-baju yang belum saya masukan ke dalam mesin cuci dan beberapa barang yang merusak pemandangan mata.
Sejenak saya berdiam dan berusaha mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur, hingga akhirnya terdengar suara bel. Sesungguhnya masih malas sekali saya untuk menerima tamu pada saat itu. Tapi apa boleh buat, saya harus membukakan pintu.
Akhirnya dengan masih menggunakan kaos T-shirt dan celana pendek jeans dan rambut saya yang masih agak kusut sedikit, saya bukakan pintu. Wah, ternyata si Gillian yang datang, tampak ia membawa dua bungkus kantong plastik, entah apa isinya. Seperti biasa, ia langsung masuk ke dalam. Sambil berjalan masuk ia mengatakan bahwa ia baru membeli 2 kaset video blue film dan beberapa makanan ringan serta soft drink. Ia mengatakan pula bahwa ayah dan adiknya akan datang menengoknya tanggal 4 Maret. Ia tampak gembira sekali, masih tampak dengan jelas kelakuan teen. Ia langsung menuju ke dapur, ia buka refrigerator dan ia masukan beberapa kaleng minuman ringan sedangkan makanannya ia taruh di atas meja di dekatnya. Gillian adalah orang Italy, ia berumur 20 tahun dan ia adalah adik kelasku. Ia cantik sekali, badannya yang proposional, ia banyak digandrungi laki-laki di kampus.
Saya tidak peduli apa yang akan ia lakukan lagi setelah itu, sehingga saya memutuskan untuk masuk ke kamar dan berusaha merapikan dan membersihkan kamar saya yang sangat berantakan. Saya taruh barang-barang pada tempat semula saya ambil hingga beberapa kali saya keluar masuk kamar. Saya lihat sepintas Gill sibuk menyalakan video dan ia ingin melihat film yang baru ia beli. Saya vacum, saya lap pada bagian tertentu dan saya semprot sedikit dengan pengharum ruangan, setelah semuanya saya kira sudah cukup, saya mandi.
Cukup lama juga saya di dalam kamar mandi, saya ingin melepaskan semua rasa lelah saya yang masih tersisa. Saya berendam dengan air hangat, sambil mendengarkan musik dari radio dengan walkman.
Setelah selesai, saya berpakaian, dan saya tidak mendengar ada tanda-tanda kehidupan dari Gill, saya penasaran apa gerangan yang ia lakukan?
Oh My Godness, rasanya saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Gillian sedang menonton blue film sambil mengemil makanan kecil dan tampak sedikit berantakan. Ia tampak serius sekali melihat filmnya. Saya duduk di sebelahnya, dan menghadap ke TV, tampak di layar TV, satu perempuan sedang disetubuhi dengan 3 laki-laki. Kelihatannya Gill mengikuti dengan serius, ia tidak menggubris saya.
"Agh, blue film.. rasanya bosan sekali saya melihat blue film, adegan yang dipertontonkan hanya itu-itu saja, yang berubah hanyalah pemainnya saja. Huh..." pikir saya dalam hati melihat pertunjukan di TV. Akhirnya saya putuskan untuk tetap duduk dan posisi saya sedikit agak turun sehingga pangkuan pada tubuh saya hanyalah kedua siku dan pantat serta kepala bagian belakang saja. Karena saya tidak berminat apa-apa terhadap yang ada di TV, saya menerawang ke atas, saya memikirkan keluarga saya di Jakarta, saya jadi memikirkan mama, adik dan saudara-saudara. "Sedang apa ya mereka sekarang?" tanyaku dalam hati. Saya pun ingat pada beberapa kejadian dan kenangan manis dengan pacar saya William. Rasanya lama saya berkhayal sedangkan Gill tetap sibuk dengan kegiatannya. Hingga akhirnya, ia membuka pembicaraan yang sempat membuat saya kaget.
"Ev, apa kamu lihat begitu hebatnya pria Greek itu, dia begitu jantan sekali... Ooh, saya menjadi terangsang sekali.." katanya sedikit menggebu.
"Mmm... bolehkah saya masturbate di sini? Ev? Saya benar-benar ingin berfantasi berhubungan dengan keparat Greek itu.." tanyanya sedikit terbata-bata takut saya menolak dan mohon kepada saya untuk membolehkannya.
Saya diam sejenak, saya lihat ke arahnya, dan ia menengokku juga. Tampak sekali bahwa ia sudah benar-benar terangsang akibat dari apa yang telah ia lihat. Raut wajahnya terlihat merah padam seakan menyatakan akan gairah seksnya yang terpendam. Saya tersenyum padanya, saya benar-benar tersenyum melihat kelakuannya dan bahasa tubuhnya.
Tanpa menjawab pertanyaan sekaligus permintaannya, saya beranjak dari tempat duduk, saya bangkit dan menuju ke dalam kamar. Dalam perjalanan, Gill mengatakan pada saya sambil melihat saya ingin tahu ke mana saya pergi, ia mengatakan dengan memelas, "Saya benar-benar terangsang, Ev..."
Saya mengambil satu vibrator saya yang dapat bergetar dan bergerak naik turun kira-kira panjangnya 8 inches, dan saya keluar dari kamar, sambil membawa vibrator di tangan. Saya melihat wajah Gill begitu senang, ia tampak tersenyum. Manis sekali senyumannya. Saya serahkan vibrator saya pada dia sambil mengatakan, "Gill, kalau kamu mau masturbate, gunakan ini, ini akan sangat membantumu..." Setelah menyerahkan pada Gill, saya pergi ke dapur, saya mencari-cari makanan dan membuat 2 gelas teh. Saya benar-benar merasa lapar sekali. Saya ingat-ingat, terakhir saya makan adalah tadi pagi sekitar jam 04:30.
Saya membuat mie instan 2 bungkus sambil menunggu matang, saya intip Gillian dari kaca jendela. Astaga! Dia sudah masturbate! sedangkan pertunjukan yang ada di TV sudah berubah, tampak di layar TV seorang laki-laki yang sedang dikerjai oleh dua wanita, penisnya dihisap, sedangkan yang satunya lagi sedang menikmati setiap hisapan, jilatan laki-laki tersebut pada vaginanya. Tampak Gill sedang mengeluar-masukan vibrate milik saya, walaupun kurang jelas sebab ia duduk membelakangi saya.
Sekali lagi, saya tidak peduli dengan apa yang sedang saya lihat, saya tetap melanjutkan kegiatan saya memasak mie instant dan memakannya sendirian. Beberapa kali terdengar lengkuhan dan desahan Gill, rasanya ia menikmati apa yang sedang ia lakukan. Saya tetap makan dan menghabiskannya.
Setelah selesai, dan mencuci piring kotor serta membersihkan beberapa bagian yang kotor, saya kembali kepada Gillian. Pelan-pelan saya berjalan mendekatinya, hingga akhirnya saya berdiri beberapa meter di belakangnya. Saya dapat melihat dengan jelas apa yang dia lakukan, saya pun dapat melihat dengan jelas bibir vagina serta payudaranya yang bulat dan putih. Ia hanya menurunkan celana dalamnya hingga lututnya dan ia merenggangkan sedikit kedua pahanya. Ia sibuk mengeluar-masukan vibrate dengan frekwensi bervariasi, kadang pelan dan halus, namun kadang juga cepat dan sedikit kasar. Sedangkan tangan kanannya mengusap-usap bibir vaginanya bagian atas sesekali meremas payudaranya sendiri bergantian.
Wow, pemandangan yang sangat mengasyikan buat semua laki-laki tentunya. Namun saya sungguh tidak terangsang dengan apa yang saya lihat atas Gill sebab saya masih normal, saya hanya suka pada kaum pria. Memang saya akui bahwa saya sedikit terangsang tapi itu bukan karena melihat tubuh Gill, melainkan terangsang karena apa yang saya lihat dari apa yang ditayangkan di TV. Terlihat di layar TV, seorang perempuan memompa penis yang berada di dalam vaginanya sedangkan wanita yang lain, sedang berusaha menjilati penis yang sedang keluar masuk di dalam vagina temannya. Wow, fantastic!
Hingga akhirnya saya tidak tahan, saya raba sedikit kemaluan saya dari balik celana pendek saya. Beberapa kali saya melakukan rangsangan pada diri saya sendiri. Rasanya dengan posisi berdiri kurang nyaman, akhirnya saya putuskan untuk duduk di sofa dekat Gill. Ketika saya datang, rupanya Gill sedikit kaget, tampak dari tubuhnya yang sedikit tersentak melihat kehadiran saya.
Dia benar-benar tidak menduga, dan yang membuat saya ingin tertawa adalah pada saat itu pula ia orgasme, jelas sekali ia bergetar, dan mengeluarkan vibrate dari dalam vaginanya dan sambil merapikan posisi duduknya. Ia tampak nervous, sungkan, malu, entah apalagi. Sambil merapikan duduknya, ia agak berdiri dan berusaha merapikan pakaiannya terutama celana dalam yang berada di bawah dengkulnya pada saat ia berdiri.
Melihat sikap yang gelagapan yang dilakukan oleh Gill, mata saya melihat ada beberapa tetes lendir dari dalam vaginanya yang jatuh di karpet. Sepertinya ia tahu apa yang saya lihat, ia buru-buru menunduk berusaha untuk membersihkannya, namun dengan cepat saya katakan padanya sambil mendekatinya dan menepuk-nepuk pundak kirinya, "It's ok.. it's ok.. I can feel what's your feel.. it's ok... I'll not angry.."
Setelah itu saya masuk ke dalam kamar, saya mengulang kembali kejadian yang baru terjadi beberapa menit yang lalu sambil tersenyum sendirian. Pada saat saya membayangkan yang baru saja terjadi, terlintas dalam pikiranku bahwa saya ingin membeli roti di mini market dekat flat saya untuk sarapan besok sebelum saya berangkat ke kampus. Saya langsung meloncat dari tempat duduk lalu berdiri dan keluar dari kamar. Saya lihat di jam dinding menunjukan pukul 16:20, saya teringat bahwa Raymond dan Middleton teman saya ingin datang ke sini untuk mengerjakan tugas untuk besok. Mereka mengatakan bahwa mereka akan datang jam 17:00. Wah, saya benar-benar bingung mengingat waktu yang mungkin tidak cukup.
Akhirnya dengan sedikit terburu-buru, saya ambil sweater, jam tangan dan berganti celana panjang. Saya berlari kecil keluar kamar. Sambil berlalu, saya katakan pada Gill bahwa nanti andai ada Ray dan Middlenton datang, bukakan pintu, katakan pada mereka saya sedang keluar beli roti di blok 12. Belum terdengar jawaban dari Gill, saya langsung menutup pintu.
Akhirnya saya dapat berbelanja keperluan saya secepat mungkin dan saya kembali lagi ke flat. Sesampainya di depan pintu, saya lihat jam tangan saya menunjukan pukul 16:50. Ugh, lega rasanya, dan sepertinya masih ada waktu 10 menit lagi untuk mandi sebelum mereka datang. Setelah membuka pintu, saya kaget melihat bahwa ternyata Raymond dan Middleton sudah ada di dalam. Tampak Raymond dan Gillian sedang menonton TV yang acaranya sepak bola sedangkan Middleton sedang berusaha membuka sebuah botol wine dengan wine opener.
Setelah saya tanyakan kapan mereka tiba dan sedikit berbasa-basi, saya menghampiri Raymond dan membisikan dari belakang padanya tentang Gillian, sambil tetap membawa beberapa bungkus plastik belanjaan saya. Raymond rupanya tersentak, ia langsung menoleh pada saya dan menanyakan sekali lagi, untuk meyakinkannya dan saya jawab dengan anggukan saja dan ia pun tersenyum.
Saya pun menaruh barang-barang belanjaan saya, lalu saya pamit untuk mandi sebentar. Entah dari mana asalnya, pada saat saya mandi, terlintas kembali adegan film yang saya lihat sebelum saya pergi belanja. Saya begitu terangsang sekali hingga tanpa saya sadari saya menyabuni tubuh saya dengan lembut dan tangan saya melakukan hal-hal yang merangsang diri sendiri. Saya sentuh dengan lembut klitoris saya, saya remas dengan lembut payudara dan sesekali pula saya masukan satu atau dua jari tangan saya ke dalam vagina saya. Entah berapa lama saya melakukan itu, hingga akhirnya saya orgasme. Setelah itu saya mencuci vagina saya dan saya sabuni seluruh tubuh saya sekali lagi, terlintas dalam pikiranku, bahwa setelah ini saya akan Online di internet, saya akan menonton video XXX melalui internet.
Seperti niat saya di dalam kamar mandi, setelah saya berpakaian, saya nyalakan komputer untuk masuk dalam dunia cyber. Sambil menunggu connect, saya keluar sebentar untuk mengambil segelas air putih sambil ingin melihat apa yang sedang terjadi dengan teman-teman saya. Saya lihat, Middleton sedang menikmati wine-nya sambil ikut menyaksikan apa yang ditayangkan pada TV. Sekejap saya lihat apa yang ada di TV. "Ooo.. ternyata blue film lagi... wah, ini pasti idenya Raymond, tapi apa idenya Gill?" tanyaku dalam hati. Saya lihat Raymond dan Gillian sedang duduk dan serius memperhatikan film yang ada. Mereka kelihatan tegang sekali, bisa saya lihat dari raut wajah mereka berdua sedangkan Middleton tampak lebih santai sebab ia sambil menikmati wine yang ada di hadapannya. Saya tersenyum kecut melihat ini.
Setelah saya ambil satu botol air putih dan satu gelas kosong, saya kembali ke kamar saya sambil tetap melirik kelakuan teman-teman saya, saya kembali tersenyum dan saya lihat Middleton sedang meneguk wine-nya.
Saya lihat bahwa komputer saya sudah siap, dengan cepat saya connect, sambil menunggu permintaan saya untuk dapat menonton blue film di situs Swedenteen, saya check e-mail, siapa tahu ada kabar dari William atau dari keluarga saya, saya pun ingin memberi kabar pada mereka (termasuk William) bahwa mungkin pada akhir bulan Maret, saya akan pulang ke Indonesia, saya katakan bahwa saya libur 1 bulan (walaupun sebenarnya hanya kira-kira 2 minggu), saya sampaikan pula salam kangen dan salam sayang buat mereka dan pesan agar mereka menelepon saya sebab saya kangen dengan mereka.
Setelah gono-gini, akhirnya saya dapat menonton blue film, dan saya pilih orgy diantara banyak pilihan yang lainnya. Adegan demi adegan saya tonton dengan serius hingga akhirnya saya pun merangsang diri saya, saya raba dengan lembut vagina saya naik turun dari luar celana ketat saya, nampaknya sudah agak lembab oleh beberapa lendir yang keluar. Saya buka bra dan saya lempar ke tempat tidur, lalu saya remas dan berusaha menghisap sendiri payudara saya yang berukuran 34, saya mainkan puting saya, saya pilin dengan pelan-pelan dan lembut.
"Uuuh.. ahhh.." saya mendesah karena nikmat yang saya lakukan sendiri. Saya membayangkan bersetubuh dengan pria, saya bayangkan ada sebuah penis yang dapat saya kulum atau masukan ke dalam vagina saya seperti tampak pada monitor komputer. Beberapa kali saya mendesah pelan.
Tiba-tiba terdengar 2 kali pintu kamar diketuk dan langsung dibuka begitu saja tanpa menunggu jawaban dari saya, saya sungguh kaget. Terlihat Middleton muncul di balik pintu, sebelum ia mengatakan sesuatu, saya tanyakan padanya di mana Raymond dan Gillian. "Mereka telah memulai bersenggama, Ev.." jawabnya. Setelah mendengar jawabannya itu, saya dapat menyimpulkan apa maksudnya apalagi saya lihat di balik celana pendek Hawaii-nya terlihat penisnya menegang, entah itu gara-gara film atau gara-gara Raymond dan Gill. Saya tersenyum kecil. Sambil mengangkat tangan kanan saya dan menandakan supaya ia mendekat, ia pun mendekati saya yang masih duduk di depan komputer sedangkan di layar monitor tetap menampilkan blue film orgy. Setelah dekat, Middleton melirik ke layar monitor sedangkan tangan kanan saya, berusaha menjamah penisnya dari luar celana pendeknya.
Agh, akhirnya saya dapat memegang penisnya itu, dan Middleton tetap melihat pada layar monitor. Saya usap-usap sebentar dari luar penisnya sebelum saya turunkan celana pendek itu. Wow, ternyata dia sudah terangsang sekali, terlihat dari ukuran penisnya yang sudah keras dan besar. Saya turunkan sedikit celana pendeknya hingga tampak penisnya yang sudah tegang dan naik ke atas seolah-olah mengacung-acung. Saya remas dan saya kocok pada batang penisnya diiringi dengan mendekatkan kepala saya pada penisnya. Saya julurkan lidah saya pelan-pelan hingga mengenai ujung penis Middleton, saya kulum dengan begitu lembut dan saya berusaha menghayati atas setiap kuluman saya sendiri. Saya turunkan arah jilatan lidah saya pelan-pelan hingga melewati batang penis lalu pangkal penis sehingga saya dapat menikmati dua buah bola yang menggantung di bawah penis. Saya hisap dengan lembut satu demi satu bergantian. Saya lirik mimik Middleton. Aghh, rasanya ia pun menikmatinya, ia memejamkan matanya, ia mendesah dengan pelan. Ia pegang bagian belakang kepala saya dengan tangan kirinya seakan ingin mendorongkan kepala saya hingga saya dapat mengulum penisnya.
Saya mengarahkan lidah saya ke atas lagi setelah puas dengan dua buah bolanya, saya julurkan lidah saya hingga menyapu semua daerah yang dilalui oleh lidah saya hingga kembali lagi ke ujung penis, saya mainkan sebentar lidah saya di lubang penis, saya jilat lubang itu dengan tidak teratur ke kiri dan ke kanan sehingga kepala saya pun bergerak-gerak, tubuh Middleton bergetar atas kenikmatan yang ia rasakan.
Saya mulai mengulum penisnya sedangkan tangan kanan saya menaik-turunkan kulit pada batang penisnya. Ingin rasanya saya lumat dan masukan semua ke dalam mulut saya namun saya tidak mampu menelan semua itu, penisnya yang berurat dan begitu besar, hampir sama dengan vibrator yang saya miliki.
Ketika saya sedang menikmati setiap kuluman saya pada penis Middleton, tangan kanan dan kirinya memegang kepala saya lagi, gerakannya memaju-mundurkan kepala saya. Untung ia melakukan itu tidak lama sebab saya sudah merasa tidak dapat bernafas oleh tertutupnya semua rongga mulut saya dengan penisnya yang sesekali terdengar suara dari dalam mulut saya. Sebentar saya keluarkan penis itu dalam mulut saya dan saya menarik nafas beberapa kali dengan posisi tangan Middleton tetap pada belakang kepala saya. Ia cengkeram lebih kuat sedikit dan berusaha untuk mengangkat kepala saya. Sambil mengikuti arah tangannya pada kepala saya, tangan kiri saya memegang penisnya. Setelah wajah saya mendekat, dilumatnya bibir saya dan dimasukan lidahnya dalam mulut saya, ia mencari lidah saya, ia gigit kecil bibir bagian bawah sedangkan saya mengikuti alurnya dan tanga kiri saya tetap mengocok-kocok batang penis. Namun semua itu tidak lama, setelah kira-kira saya dapat melarikan diri dari ciumannya, saya kembali ke bawah, saya lepas lumatannya. Kembali saya kulum dengan penuh nafsu penis yang ada di hadapan saya. Saya hisap dalam-dalam semampu saya dan saya mainkan lidah saya sebentar di ujung penisnya.
"Aghhh..." desahnya. Saya tidak peduli dengan kenikmatannya, saya lanjutkan kuluman saya, saya tetap jilat setiap milimeter bagian penisnya hingga terasa ada rasa asin sedikit. Tanpa dikomando, saya berdiri dan mendekatkan wajah saya pada wajahnya, dilumatnya seisi mulut saya olehnya. Saya pegang penisnya dengan tangan kanan sambil sesekali mengocoknya sedangkan tangan kiri, saya gunakan untuk meremas beberapa kali pantatnya sambil meraba dengan halus.
"Ev, gantian saya duduk ya?!" katanya kemudian, dan ia pun duduk di depan komputer di mana saya duduki sebelumnya. Ia dorong sedikit ke belakang hingga kakinya sekarang dapat menjulur ke bawah. Tampak penisnya tegak berdiri mengarah ke atas dan bergerak ke kiri dan kanan sesuai dengan gerakan tubuhnya. Sambil mencari posisi yang nyaman, saya melepaskan seluruh pakaian saya mulai dari celana hingga bra saya. Ia langsung memegang vagina saya dengan tangan kanannya, ia mainkan bagian atas vagina saya dengan jempolnya. Ia gesek-gesekan dengan lembut. Ugh, enak sekali rasanya.
Karena saya pun sudah terangsang sekali, saya tidak memberi kesempatan pada Middleton untuk menimati vagina saya. Lalu saya bergerak melangkahi tubuh Middleton dengan arah menghadap ke layar komputer. Setelah saya rasa sudah pas, sambil tetap memegang penisnya dengan tangan kanan saya, perlahan saya turunkan tubuh saya perlahan-lahan hingga akhirnya ujung vagina saya menyentuh ujung penisnya. Perlahan saya turunkan, dan berusaha mendesakan penisnya agar dapat masuk ke dalam vagina saya dengan pantat. Terasa sudah mulai masuk pada bagian ujungnya, namun saya tetap berusaha untuk mendesakan lagi, saya turunkan perlahan-lahan tubuh saya. Dan akhirnya entah sudah berapa centi yang masuk dalam vagina saya, saya rasakan getaran pada tubuh saya sendiri. Saya tahan sebentar untuk menikmatinya lalu berusaha lagi untuk menurunkan tubuh saya. Oh nikmat sekali rasanya pada saat penis itu masuk lebih ke dalam, menusuk ke dalam di vagina saya. "Aghhh... sssttt.." desah saya menikmatinya.
Setelah dengan sedikit usaha saya tadi, akhirnya penis itu menyelinap masuk dan vagina saya menjepit dengan kencang dan Middleton memegang kedua belah pinggul saya dengan kedua tangannya. Sulit diungkapkan dengan kata-kata tentang apa yang saya rasakan pada saat penis Middleton menyelip diantara kedua buah bibir vagina saya.
Pelan-pelan saya mulai menaik-turunkan tubuh saya dan tangan saya bertumpu pada meja komputer. Saya kerahkan segenap kemampuan saya untuk bertahan, saya coba mengatur nafas yang terengah-engah. Kenikmatan yang saya rasakan membuat saya merasa tidak dapat bergoyang dengan cepat, dibantu dengan tangannya yang memegang erat pinggul saya, akhirnya saya dapat bergerak lebih cepat. Sesekali saya melihat vagina saya yang sedang naik turun, tampak sekali salah satu bagian vagina saya seolah-olah ingin ikut keluar pada saat saya menaikan tubuh saya. "Ooohh..." desahku beberapa kali menahan nikmat.
Setelah saya merasa terbiasa dengan penis Middleton yang cukup besar itu, saya mulai dapat menggoyangkan pinggul saya ke kiri dan ke kanan. Makin cepat saya menggerakan tubuh saya, semakin nikmat rasanya, dan akhirnya saya pun tidak dapat menahan puncak birahi saya. Pada saat saya ingin orgasme, saya tekan seluruh tubuh saya kuat-kuat ke bawah sehingga penisnya masuk ke dalam seluruhnya.
"Aagghhh..." saya tidak dapat menahan getaran pada tubuh saya pada saat saya menyemprotkan lendir dari dalam dan getaran pada vagina saya. Dan saya berdiam sebentar untuk menikmati setiap semprotan dari dalam tubuh saya. Saya lihat lagi sepintas ke bawah dan penisnya masih dengan kerasnya tetap berapa di dalam vagina saya.
Kembali saya gerakan tubuh saya naik turun, walaupun tidak seperti sebelumnya, saya coba untuk mengocok penisnya di dalam vagina saya. Semakin cepat gerakan saya, semakin keras desahan Middleton. Rasanya saya dihipnotis oleh kenikmatan yang saya rasakan. Middleton kembali memacu tubuh saya dengan tetap memegang pinggul saya dan sesekali meremas payudara saya yang bergerak naik turun tidak beraturan, ia pilin puting saya, ia remas sebelah kiri dan pindah ke sebelah kanan.
Ditengah-tengah gerakan saya naik turun dan sesekali menggoyangkan pingul ke kiri dan ke kanan, saya sadar dengan diri saya, saya menyadari apa yang sedang saya lakukan namun saya tetap melanjutkan gerakan saya. Entah setan dari mana, akhirnya saya memutuskan untuk mengubah posisi saya, pada saat yang saya pikir tepat, saya pegang penisnya dan saya berbalik. Sehingga sekarang saya dapat melihat wajah Middleton. Saya kecup bibirnya dan saya lumat lidahnya beberapa waktu, saya arahkan kembali penisnya untuk masuk ke dalam vagina saya. Kembali lagi seperti yang saya lakukan sebelumnya, saya lakukan perlahan untuk memasukan penis itu.
Sekali lagi saya merasakan kenikmatan yang sungguh menyenangkan pada saat penis itu mulai masuk ke dalam vagina saya. "Eessstt..." desah saya sambil memejamkan mata.
Kembali saya genjot tubuh saya naik turun, saya gerakan pula pinggul saya hingga terlihat Middleton mendesah dan sesekali menjulurkan lidahnya. Tangan Middleton yang sebelumnya memegang pinggul saya, sekarang meremas-remas kedua payudara saya dengan sesekali memilin puting saya yang sudah keras. Ia pegang payudara yang bergerak naik turun dengan liarnya hingga sekarang payudara saya hanya 'dapat berdiam diri' pada tempatnya saja.
Entah berapa lama saya melakukan ini dan menikmati setiap kenikmatan dari setiap gerakan saya, hingga akhirnya Middleton mempercepat gerakan dan menarik kepalaku untuk mendekat pada wajahnya. Ia cium dan lumat bibir saya, ia mainkan lidahnya dalam mulut saya sambil melingkarkan kedua tangannya pada punggung saya.
Rasanya cukup lama juga kami berciuman dan melumat satu sama lain dan ia melepaskannya dan mengatakan pada saya bahwa ia sudah ingin klimaks. Semakin cepat gerakan tubuhnya menaik-turunkan pantat saya agar semakin cepat pula penisnya dikocok oleh vagina saya. Sambil mengikuti gerakannya, akhirnya saya putuskan untuk menghentikannya dan saya ingin mengulum penisnya agar saya dapat menikmati spermanya nanti. Benar saja, dalam hitungan detik, setelah saya cepat-cepat melepaskan penis itu dari dalam vagina saya, ia mengeluarkan sperma. Kira-kira dua atau tiga semburan pertamanya sempat mengenai rambut dan pipi saya namun cepat-cepat saya membuka mulut dan saya berusaha mengulum penisnya sehingga spermanya itu masuk ke dalam mulut saya.
Ugh, nikmat sekali, semburan spermanya sempat mengenai langit-langit dalam mulut saya, setelah kira-kira sudah habis, sebagian yang ada di dalam mulut, saya keluarkan dan sisanya saya telan. Setelah itu, saya jilat-jilat pada ujung penisnya itu, beberapa kali tubuh Middleton bergetar. Saya kulum lagi penisnya dan saya hisap lalu saya diamkan beberapa waktu di dalam mulut sambil memainkan lidah saya di dalam.
Uh, saya raba dengan telapak tangan kanan saya ke atas mulai dari pinggul hingga mengenai puting susunya dan mengenai bulu dadanya, sedangkan tangan kiri saya tetap memegang dan menggenggam penis yang masih di dalam mulut. Beberapa kali saya melakukan kuluman dan jilatan pada bagian ujung penis. Lalu saya bergerak ke atas perlahan, saya cium dan lumat bibirnya, mungkin masih tersisa rasa spermanya sendiri, terlihat dari beberapa kali ia berusaha menghindar dari ciuman saya namun saya tetap berusaha melumat bibirnya, saya julurkan lidah saya, saya jilati daerah luar bibirnya.
Akhirnya saya memeluk erat tubuh Middleton, saya peluk semampu saya sebab tubuhnya lebih besar dari saya. Saya letakan kepala saya dan menghadap ke kiri pada dadanya yang bidang. Oh My Godness, saya lihat Raymond dan Gill sedang berdiri di depan pintu, mereka melihat saya, rupanya mereka melihat beberapa adegan yang telah saya lakukan. Buru-buru saya bangkit dan saya mengambil pakaian saya dan saya hampiri mereka. Saya tanyakan bagaimana dengan seks mereka, dan saya berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh saya, sedangkan Midlleton bangkit lalu berpakaian, rupanya ia tidak peduli dengan kehadiran Ray dan Gill.
Sebelum saya memasuki kamar mandi, sepintas saya lihat bahwa Gill dan Ray sedang duduk di sisi luar ranjang saya sedangkan Middleton sibuk berpakaian.
Berkat Tagihan Listrik
Hai, saya ingin menceritakan pengalaman hebat saya di Singapore dan saya mohon agar alamat E-mail saya dirahasiakan mengingat cerita ini benar-benar terjadi dan orang yang berhubungan dengan saya di dalam cerita ini sering sekali membaca situs ini sehingga jika tidak dirahasiakan, akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Mengenai nama dan lokasi peristiwa sudah saya samarkan, sehingga orang yang berhubungan tidak akan mengetahuinya. Mengenai siapa saya, saya rasa semua pembaca sudah mengenal saya karena saya telah banyak sekali kontribusi cerita ke situs ini dan salah satunya adalah GAIRAH PANTI ASUHAN.
Saat ini saya tinggal kost di salah satu apartemen di Singapore dan rumah kost itu dikelola oleh seorang ibu yang tentunya belum pernah menikah dan saya sendiri tidak mengerti mengapa dia berbuat demikian. Saya pernah sekali menanyakan alasan mengapa dia masih single dan dia menjawab bahwa dia sibuk sekali dalam bisnisnya sehigga tidak berpikir untuk memiliki keluarga. Kadang-kadang saya pernah iseng-iseng apakah yang dia lakukan jika dia sedang menginginkan seks dan saya sangat terkejut dikala dia menjelaskan bahwa dia sangat senang sekali bermasturbasi di kamar mandi apalagi di rumah pribadinya (dia tidak tinggal dengan saya), dia hanya tinggal dengan ibunya yang sudah sangat tua dan buta serta pembantunya yang masih berusia 15 tahun dan berasal dari Indonesia juga.
Suatu hari saya menjawab telepon genggam saya karena saya sedang ditelepon seseorang dan saya mengira bahwa itu berasal dari orang tua saya yang berada di Jakarta tetapi berhubung nomor telepon asing yang tercetak di layar HP membuat saya sadar bahwa orang tersebut juga berada di Singapore. Ternyata, itu adalah ibu kost saya yang menelpon saya untuk mengomel-ngomel dengan alasan tagihan listrik dan airnya naik drastis sehingga saya menjadi merasa bersalah. Saya memutuskan pergi ke rumahnya yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya untuk diskusi mengenai jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Setelah menggunakan MRT dan bis, akhirnya sampailah di sebuah rumah yang sangat mewah. Saya akhirnya masuk ke rumah besar itu dan saya dipersilakan duduk dan ibu kost yang bernama Helen itu menyuruh pembantunya yang bernama Sutini untuk membuat orange juice untukku. Tak beberapa lama kemudian, dia memberikan saya beberapa lembar kertas yang berisi tagihan listrik dan airnya dan dia kembali sedih ketika melihat jumlah tagihan tersebut. Saya juga tidak tahu apakah saya sedang sadar ataupun tidak, saya langsung memeluk Tante Helen yang sudah saya anggap sebagai tante saya sendiri dan secara refleks, saya mulai mengelus-elus rambut pendeknya. Rupanya tindakan tidak sadar saya membuat respon yang saya tidak saya duga sama sekali. Dia mencium bibir saya dengan mesra dan mengajak saya pergi ke ruangan tidurnya yang tidak jauh dari tempat kami berciuman barusan.
Setelah saya sudah berada di dalam kamarnya, dia langsung menyerang saya dan menciumi saya. Dia akhirnya bercerita mengapa dia begitu terangsang pada saya. Sesudah dia meneleponku beberapa menit yang lalu, sebenarnya dia sedang masturbasi dan kedatangan saya menganggunya sehingga dia menghukum saya untuk memuaskannya. Saya sangat senang sekali sehingga tanpa menghilangkan kesempatan seumur hidup, apalagi saya belum pernah bercinta dengan wanita setengah baya. Saya langsung membuka seluruh busananya berhubung hawa nafsu saya sudah berada di ubun-ubun, apalagi sebelum saya ke rumahnya, saya melihat cewek cewek seksi di MRT dan bis yang membangkitkan gairah seksual saya.
Setelah dia telanjang bulat, saya langsung mengulum payudaranya dengan penuh nafsu sementara tangan saya menggerayangi daerah sekitar liang kenikmatannya sehingga makin lama liang itu makin basah dan suara mendesahnya semakin keras. Sambil menyebut namaku dan mengelus-elus rambutku, dia membuka mulutnya dan seakan-akan dia menikmati sekali permainan jari-jariku di dalam liang senggamanya. "Joeee, you are so great", katanya di dalam desahan yang membuat saya menjadi semakin terangsang.
Setelah saya mengulum payudaranya, saya mulai mendekati liang senggamanya dan dengan gilanya, saya mulai menjilati cairan wanita di sekitar kelaminnya sehingga dia mendesah-desah tidak karuan. Sambil terus menekan kepala saya sehingga kepala saya menjadi tenggelam di dalam selangkangannya sehingga saya menjadi kesulitan bernafas untuk sementara waktu, dia terus mengucapkan kata-kata vulgar yang membuat saya semakin terangsang.
Akhirnya permainan oral kami hentikan dan saya mulai menyiapkan kejantanan saya yang sudah tegak menantang dan tanpa aba-aba dari siapapun, saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang sorganya yang sudah basah dengan cairan kewanitaannya. "Blesss.." masuknya kejantananku membuat dia menjadi mendesah dan saya sungguh kaget karena liangnya mengeluarkan darah perawannya dan di dalam hati, saya sungguh tidak percaya bahwa wanita berusia 37 tahun masih perawan. Saya kemudian menggenjot tubuhnya sehingga dia makin hot saja berteriak dan mendesah dan sesekali dia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan karena menerima hujaman senjataku yang tentunya sangat dia idam-idamkan.
Dengan ganasnya, dia menarik saya yang masih meliuk-liuk karena saya sendiri sedang merasakan kenikmatan bersenggama dengan wanita berusia 37 tahun. Dia langsung menciumi bibir saya dengan ganasnya dan memeluk saya dan tak lama kemudian, dia bergetar hebat karena ternyata dia sudah mencapai klimaksnya yang maha dahsyat karena dia bergetar hebat selama dua menit sehingga batang kemaluan saya menjadi sangat nikmat dan seperti dipijit-pijit oleh sesuatu yang maha enak. Klimaksnya dia membuat tubuhnya lelah tetapi bagaimana dengan saya? Saya berpikir bahwa ini cewek pasti egois sekali sehingga tidak ada laki-laki yang mengawininya. Akhirnya saya mencari pelampiasan sendiri. Sambil melihat liang kewanitaannya yang dipenuhi oleh cairan nikmatnya, saya mengocok batang kemaluan saya sendiri untuk mencapai target kepuasan.
Disaat saya sedang masturbasi, tiba-tiba masuklah Sutini ke dalam kamarnya dan dia sungguh kaget ketika melihat nyonyanya dalam keadaan tertidur dengan tubuh telanjang bulat. Melihat itu, dia merasa malu dan ia ingin keluar kamar dan dengan penuh kecepatan, saya langsung menutup pintu kamar sehingga dia tidak bisa keluar dan dia berkata kepadaku, "Tuan, apa yang Tuan lakukan kepada saya.. jangan, Tuan.." Saya tidak peduli dengan apa yang dia teriakkan. Saya langsung menyerbunya sehingga akhirnya kami sama-sama terjatuh ke ranjang yang tidak jauh dari pintu. Saya menciumnya dan kata-kata jangannya telah berubah menjadi kata-kata memohon karena dia menceritakan bahwa dia mengintip segala aktifitas yang sedang kami lakukan tadi sehingga dia ingin sekali menikmati batang kemaluan saya. Tanpa disuruh, dia langsung mendekati batang kemaluan saya yang masih tegang dan dia langsung menjilatinya dengan penuh nafsu sementara saya dengan nafsunya memasukkan jari-jari saya ke dalam celana pendeknya dan memainkan jari-jari saya di sekitar kelaminnya sehingga dia semakin mendesah-desah seperti cacing yang kepanasan.
Nampaknya permainan ini disaksikan kembali oleh Tante Helen dan dia kemudian memanggil kami berdua dengan penuh amarah. Mendengar teriakan nyonyanya, Sutini menjadi sangat malu dan langsung berdiri dan menundukkan kepalanya. Melihat Sutini ketakutan, Tante Helen langsung mendekati Sutini dan langsung menciumnya dan dibalas oleh Sutini dengan penuh birahi. Kemudian, Tante Helen menyuruh saya berbaring dan selanjutnya dia menyuruh Sutini untuk duduk di atas tubuh saya. Sutini makin tidak mengerti apa yang akan terjadi tetapi dia tetap saja menuruti perintah nyonyanya. Dia duduk di atas tubuh saya dan Tante Helen menyuruh saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam liang kelamin pembantunya. Saya menurutinya dengan penuh kesenangan, saya langsung kembali menancapkan batang kemaluan saya sehingga membuat Sutini menjadi kesakitan tetapi Tante Helen menyuruhnya untuk ditahan. Sutini menuruti perintah nyonyanya dan sekarang dia dengan refleks menggoyang-goyangkan tubuhnya sehingga kami berdua menjadi terhanyut dalam kenikmatan tiada tara itu.
Tante Helen hanya tersenyum melihat saya menyetubuhi pembantunya yang sangat montok dan dia sekarang mulai mendekati Sutini dan menyuruh Sutini untuk menjilati liang kewanitaannya yang berada di depan dirinya. Dengan gilanya, dia menjilati liang kewanitaan Tante Helen sehingga Tante Helen kembali mendesah dengan gilanya.
Melihat adegan yang begitu erotis tersebut, saya menjadi sangat terangsang dan mempercepat gerakan saya sehingga sepertinya batang kemaluan saya yang berada di dalam liang kewanitaan Sutini sedang mengaduk-aduk liangnya dan menyodok-nyodok rahimnya. Kami menjadi terhanyut oleh adegan yang sedang kami nikmati bersama dan hal itu berlangsung selama 15 menit karena tak lama kemudian, Tante Helen berteriak dengan penuh gila karena dia merasakan kenikmatan kedua disaat liang kewanitaannya dijilati oleh lidah kecil Sutini sementara Sutini disaat yang bersamaan dengan klimaksnya Tante Helen juga bergetar hebat karena dia sedang mengalami puncak kenikmatan yang baru saja dia rasakan dan tentunya ini merupakan pengalaman pertamanya karena batang kemaluan saya dialiri oleh cairan kewanitaannya dan darah perawannya. Saya melihat Sutini nampaknya lelah sekali setelah merasakan kenikmatan maha dahsyat itu tetapi saya tidak mengijinkan untuk menghentikan permainannya karena saya masih belum klimaks.
Saya kemudian menyuruh Sutini untuk gantian berbaring menggantikan posisi saya dan ketika dia sudah berbaring, saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang kenikmatannya dan diiringi oleh teriakan yang bercampur dengan desahan. Saya terus menggenjot tubuhnya selama sepuluh menit dan saya merasakan bahwa saya ingin mengeluarkan kenikmatan saya. Saya berkata kepadanya bahwa cairan laki-laki sangat nikmat jika menyemprot ke dalam liang kewanitaannya sehingga dia memohon pada saya untuk menyemprotkan cairan laki-laki saya ke dalam liang senggamanya. "Ouchhh.. ahhh.." aku berteriak dengan penuh kenikmatan dan bergetar selama tiga menit dan disaat yang bersamaan, saya melihat Sutini sepertinya merasakan kenikmatan kedua dan kami rupanya klimaks secara bersamaan.
Akhirnya saya roboh karena kecapaian dan saya memeluk kedua wanita itu dan sebelumnya memberikan ciuman kepada mereka dengan mesranya. Setelah kejadian itu, Tante Helen kemudian berkata kepada saya, "Next time if you make abuse of my electricity or water, I am gonna punish you with this way.." katanya dengan manja. Di dalam pikiran saya, jika hukumannya begitu nikmat, lain kali saya akan menyalakan listrik 24 jam saja kali ya supaya dia bisa menyetubuhi saya 24 jam, pikirku dengan senyum kepadanya. Disaat dia menjelaskan hukumannya kepadaku, Sutini mohon diri untuk meneruskan pekerjaanya di dapur dan sebelum dia keluar, saya mencium pipinya dengan mesra sebagai tanda terima kasih.
Setelah saya menciumnya, saya berkata kepada Tante Helen bagaimana jika Sutini hamil karena sperma saya yang masuk ke dalam tubuhnya dan dia dengan senangnya menjawab, "I'll take care of her, honey.. do you know that I am expecting child" mendengar pernyataan itu, leganya hatiku dan aku meninggalkan rumahnya dengan penuh kepuasan.
Saat ini saya tinggal kost di salah satu apartemen di Singapore dan rumah kost itu dikelola oleh seorang ibu yang tentunya belum pernah menikah dan saya sendiri tidak mengerti mengapa dia berbuat demikian. Saya pernah sekali menanyakan alasan mengapa dia masih single dan dia menjawab bahwa dia sibuk sekali dalam bisnisnya sehigga tidak berpikir untuk memiliki keluarga. Kadang-kadang saya pernah iseng-iseng apakah yang dia lakukan jika dia sedang menginginkan seks dan saya sangat terkejut dikala dia menjelaskan bahwa dia sangat senang sekali bermasturbasi di kamar mandi apalagi di rumah pribadinya (dia tidak tinggal dengan saya), dia hanya tinggal dengan ibunya yang sudah sangat tua dan buta serta pembantunya yang masih berusia 15 tahun dan berasal dari Indonesia juga.
Suatu hari saya menjawab telepon genggam saya karena saya sedang ditelepon seseorang dan saya mengira bahwa itu berasal dari orang tua saya yang berada di Jakarta tetapi berhubung nomor telepon asing yang tercetak di layar HP membuat saya sadar bahwa orang tersebut juga berada di Singapore. Ternyata, itu adalah ibu kost saya yang menelpon saya untuk mengomel-ngomel dengan alasan tagihan listrik dan airnya naik drastis sehingga saya menjadi merasa bersalah. Saya memutuskan pergi ke rumahnya yang lumayan jauh dari tempat tinggal saya untuk diskusi mengenai jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut.
Setelah menggunakan MRT dan bis, akhirnya sampailah di sebuah rumah yang sangat mewah. Saya akhirnya masuk ke rumah besar itu dan saya dipersilakan duduk dan ibu kost yang bernama Helen itu menyuruh pembantunya yang bernama Sutini untuk membuat orange juice untukku. Tak beberapa lama kemudian, dia memberikan saya beberapa lembar kertas yang berisi tagihan listrik dan airnya dan dia kembali sedih ketika melihat jumlah tagihan tersebut. Saya juga tidak tahu apakah saya sedang sadar ataupun tidak, saya langsung memeluk Tante Helen yang sudah saya anggap sebagai tante saya sendiri dan secara refleks, saya mulai mengelus-elus rambut pendeknya. Rupanya tindakan tidak sadar saya membuat respon yang saya tidak saya duga sama sekali. Dia mencium bibir saya dengan mesra dan mengajak saya pergi ke ruangan tidurnya yang tidak jauh dari tempat kami berciuman barusan.
Setelah saya sudah berada di dalam kamarnya, dia langsung menyerang saya dan menciumi saya. Dia akhirnya bercerita mengapa dia begitu terangsang pada saya. Sesudah dia meneleponku beberapa menit yang lalu, sebenarnya dia sedang masturbasi dan kedatangan saya menganggunya sehingga dia menghukum saya untuk memuaskannya. Saya sangat senang sekali sehingga tanpa menghilangkan kesempatan seumur hidup, apalagi saya belum pernah bercinta dengan wanita setengah baya. Saya langsung membuka seluruh busananya berhubung hawa nafsu saya sudah berada di ubun-ubun, apalagi sebelum saya ke rumahnya, saya melihat cewek cewek seksi di MRT dan bis yang membangkitkan gairah seksual saya.
Setelah dia telanjang bulat, saya langsung mengulum payudaranya dengan penuh nafsu sementara tangan saya menggerayangi daerah sekitar liang kenikmatannya sehingga makin lama liang itu makin basah dan suara mendesahnya semakin keras. Sambil menyebut namaku dan mengelus-elus rambutku, dia membuka mulutnya dan seakan-akan dia menikmati sekali permainan jari-jariku di dalam liang senggamanya. "Joeee, you are so great", katanya di dalam desahan yang membuat saya menjadi semakin terangsang.
Setelah saya mengulum payudaranya, saya mulai mendekati liang senggamanya dan dengan gilanya, saya mulai menjilati cairan wanita di sekitar kelaminnya sehingga dia mendesah-desah tidak karuan. Sambil terus menekan kepala saya sehingga kepala saya menjadi tenggelam di dalam selangkangannya sehingga saya menjadi kesulitan bernafas untuk sementara waktu, dia terus mengucapkan kata-kata vulgar yang membuat saya semakin terangsang.
Akhirnya permainan oral kami hentikan dan saya mulai menyiapkan kejantanan saya yang sudah tegak menantang dan tanpa aba-aba dari siapapun, saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang sorganya yang sudah basah dengan cairan kewanitaannya. "Blesss.." masuknya kejantananku membuat dia menjadi mendesah dan saya sungguh kaget karena liangnya mengeluarkan darah perawannya dan di dalam hati, saya sungguh tidak percaya bahwa wanita berusia 37 tahun masih perawan. Saya kemudian menggenjot tubuhnya sehingga dia makin hot saja berteriak dan mendesah dan sesekali dia menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan karena menerima hujaman senjataku yang tentunya sangat dia idam-idamkan.
Dengan ganasnya, dia menarik saya yang masih meliuk-liuk karena saya sendiri sedang merasakan kenikmatan bersenggama dengan wanita berusia 37 tahun. Dia langsung menciumi bibir saya dengan ganasnya dan memeluk saya dan tak lama kemudian, dia bergetar hebat karena ternyata dia sudah mencapai klimaksnya yang maha dahsyat karena dia bergetar hebat selama dua menit sehingga batang kemaluan saya menjadi sangat nikmat dan seperti dipijit-pijit oleh sesuatu yang maha enak. Klimaksnya dia membuat tubuhnya lelah tetapi bagaimana dengan saya? Saya berpikir bahwa ini cewek pasti egois sekali sehingga tidak ada laki-laki yang mengawininya. Akhirnya saya mencari pelampiasan sendiri. Sambil melihat liang kewanitaannya yang dipenuhi oleh cairan nikmatnya, saya mengocok batang kemaluan saya sendiri untuk mencapai target kepuasan.
Disaat saya sedang masturbasi, tiba-tiba masuklah Sutini ke dalam kamarnya dan dia sungguh kaget ketika melihat nyonyanya dalam keadaan tertidur dengan tubuh telanjang bulat. Melihat itu, dia merasa malu dan ia ingin keluar kamar dan dengan penuh kecepatan, saya langsung menutup pintu kamar sehingga dia tidak bisa keluar dan dia berkata kepadaku, "Tuan, apa yang Tuan lakukan kepada saya.. jangan, Tuan.." Saya tidak peduli dengan apa yang dia teriakkan. Saya langsung menyerbunya sehingga akhirnya kami sama-sama terjatuh ke ranjang yang tidak jauh dari pintu. Saya menciumnya dan kata-kata jangannya telah berubah menjadi kata-kata memohon karena dia menceritakan bahwa dia mengintip segala aktifitas yang sedang kami lakukan tadi sehingga dia ingin sekali menikmati batang kemaluan saya. Tanpa disuruh, dia langsung mendekati batang kemaluan saya yang masih tegang dan dia langsung menjilatinya dengan penuh nafsu sementara saya dengan nafsunya memasukkan jari-jari saya ke dalam celana pendeknya dan memainkan jari-jari saya di sekitar kelaminnya sehingga dia semakin mendesah-desah seperti cacing yang kepanasan.
Nampaknya permainan ini disaksikan kembali oleh Tante Helen dan dia kemudian memanggil kami berdua dengan penuh amarah. Mendengar teriakan nyonyanya, Sutini menjadi sangat malu dan langsung berdiri dan menundukkan kepalanya. Melihat Sutini ketakutan, Tante Helen langsung mendekati Sutini dan langsung menciumnya dan dibalas oleh Sutini dengan penuh birahi. Kemudian, Tante Helen menyuruh saya berbaring dan selanjutnya dia menyuruh Sutini untuk duduk di atas tubuh saya. Sutini makin tidak mengerti apa yang akan terjadi tetapi dia tetap saja menuruti perintah nyonyanya. Dia duduk di atas tubuh saya dan Tante Helen menyuruh saya untuk memasukkan batang kemaluan saya ke dalam liang kelamin pembantunya. Saya menurutinya dengan penuh kesenangan, saya langsung kembali menancapkan batang kemaluan saya sehingga membuat Sutini menjadi kesakitan tetapi Tante Helen menyuruhnya untuk ditahan. Sutini menuruti perintah nyonyanya dan sekarang dia dengan refleks menggoyang-goyangkan tubuhnya sehingga kami berdua menjadi terhanyut dalam kenikmatan tiada tara itu.
Tante Helen hanya tersenyum melihat saya menyetubuhi pembantunya yang sangat montok dan dia sekarang mulai mendekati Sutini dan menyuruh Sutini untuk menjilati liang kewanitaannya yang berada di depan dirinya. Dengan gilanya, dia menjilati liang kewanitaan Tante Helen sehingga Tante Helen kembali mendesah dengan gilanya.
Melihat adegan yang begitu erotis tersebut, saya menjadi sangat terangsang dan mempercepat gerakan saya sehingga sepertinya batang kemaluan saya yang berada di dalam liang kewanitaan Sutini sedang mengaduk-aduk liangnya dan menyodok-nyodok rahimnya. Kami menjadi terhanyut oleh adegan yang sedang kami nikmati bersama dan hal itu berlangsung selama 15 menit karena tak lama kemudian, Tante Helen berteriak dengan penuh gila karena dia merasakan kenikmatan kedua disaat liang kewanitaannya dijilati oleh lidah kecil Sutini sementara Sutini disaat yang bersamaan dengan klimaksnya Tante Helen juga bergetar hebat karena dia sedang mengalami puncak kenikmatan yang baru saja dia rasakan dan tentunya ini merupakan pengalaman pertamanya karena batang kemaluan saya dialiri oleh cairan kewanitaannya dan darah perawannya. Saya melihat Sutini nampaknya lelah sekali setelah merasakan kenikmatan maha dahsyat itu tetapi saya tidak mengijinkan untuk menghentikan permainannya karena saya masih belum klimaks.
Saya kemudian menyuruh Sutini untuk gantian berbaring menggantikan posisi saya dan ketika dia sudah berbaring, saya langsung menancapkan batang kemaluan saya ke dalam liang kenikmatannya dan diiringi oleh teriakan yang bercampur dengan desahan. Saya terus menggenjot tubuhnya selama sepuluh menit dan saya merasakan bahwa saya ingin mengeluarkan kenikmatan saya. Saya berkata kepadanya bahwa cairan laki-laki sangat nikmat jika menyemprot ke dalam liang kewanitaannya sehingga dia memohon pada saya untuk menyemprotkan cairan laki-laki saya ke dalam liang senggamanya. "Ouchhh.. ahhh.." aku berteriak dengan penuh kenikmatan dan bergetar selama tiga menit dan disaat yang bersamaan, saya melihat Sutini sepertinya merasakan kenikmatan kedua dan kami rupanya klimaks secara bersamaan.
Akhirnya saya roboh karena kecapaian dan saya memeluk kedua wanita itu dan sebelumnya memberikan ciuman kepada mereka dengan mesranya. Setelah kejadian itu, Tante Helen kemudian berkata kepada saya, "Next time if you make abuse of my electricity or water, I am gonna punish you with this way.." katanya dengan manja. Di dalam pikiran saya, jika hukumannya begitu nikmat, lain kali saya akan menyalakan listrik 24 jam saja kali ya supaya dia bisa menyetubuhi saya 24 jam, pikirku dengan senyum kepadanya. Disaat dia menjelaskan hukumannya kepadaku, Sutini mohon diri untuk meneruskan pekerjaanya di dapur dan sebelum dia keluar, saya mencium pipinya dengan mesra sebagai tanda terima kasih.
Setelah saya menciumnya, saya berkata kepada Tante Helen bagaimana jika Sutini hamil karena sperma saya yang masuk ke dalam tubuhnya dan dia dengan senangnya menjawab, "I'll take care of her, honey.. do you know that I am expecting child" mendengar pernyataan itu, leganya hatiku dan aku meninggalkan rumahnya dengan penuh kepuasan.
Mantera Pengasihan
“Tok…. Tok….tok…tok…tok.. “ terdengar suara kentongan bakso yang dipukul dengan nada khas. Panjang sekali, pendek tiga kali dan diakhiri ketukan panjang satu kali. Semua orang di desa itu sudah hafal bunyi kentongan bakso seperti itu.
“Fit.. itu.. Bang Pajang sudah datang, katanya mau beli bakso..” kata seorang wanita muda pada temannya yang juga masih muda. Gadis yang disapa “Fit’ tadi melongokkan kepalanya , nama lengkapnya Nurfitriana. Sering disapa dengan sebutan Fitri. Usianya baru menginjak 20 tahun. Wajahnya cantik sekali dengan kulit putih bersih, wajahnya bulat dengan hidung mancung bermata hitam bening berkilat-kilat. Orang akan menyangka Fitri adalah seorang bintang sinetron kalau belum tahu. Rambutnya hitam legam sepunggung, dibiarkannya selalu tergerai, senantiasa melompat ke kiri dan ke kanan jika Fitri berjalan. Tidak heran kalau Fitri berada di dekat temannya, dia akan menjadi sangat menonjol, apalagi dengan temannya yang sekarang bersamanya, sangat jauh bedanya. Yang satu putih, yang satu agak hitam, yang satu cantik, yang satu tidak menarik. Untungnya Fitri bukan tipe gadis yang sombong dan pilih-pilih teman, mungkin itu yang membuatnya disukai di antara teman-temannya.
“Mana sih?” Fitri melongok ke arah suara kentongan. Dia berlari kecil ke luar pagar Asramanya. Fitri memang tinggal di Asrama. Sekolahnya mengharuskan itu. Kebetulan Fitri sekolah di Sekolah Perawat Kesehatan di Tasikmalaya. Orang paling senang melihat Fitri memakai seragam perawatnya yang serba putih, itu membuat tubuhnya jadi terlihat makin putih.
“Itu, di ujung jalan,” temannya yang menyusul di belakang menjawab sambil menunjuk. Sebuah gerobak bakso kecil berwarna biru kusam berjalan mendekat dari arah ujung jalan dan makin-lama makin mendekat. Tukang baksonya bernama Pajang, orangnya sudah berumur sekitar 40 sampai 50 an, rambutnya sudah memutih sebagian, sementara kumis dan janggutnya yang juga memutih terlihat tidak terawat, kalau saja dia tidak berdagang bakso, orang mungkin akan mengira dia orang gila kerena suka tersenyum-senyum sendiri.
“Eh, Non Fitri,” Pajang mengembangkan senyumnya saat bertemu dengan Fitri, sebaris gigi kuning kehitaman terlihat berbaris di balik bibirnya yang tebal, wajahnya yang kotor tidak terawat berusaha tersenyum, tapi yang ada justru sebuah seringai mengerikan.
“Eh.. iya Bang..” Fitri berusaha ramah dan membalas senyum Pajang.
“Yang biasa Non?” tanya Pajang dengan nada aneh, seperti ramah yang dipaksakan. Dengan gerakan terburu-buru Pajang menyiapkan Bakso yang dipesan.
“Kok nggak kuliah Non?” tanya Pajang di tengah kesibukannya. “Memang lagi libur ya?”
“Eh..” Fitri terkaget sesaat. Dalam pikirannya dari mana Pajang tahu kesibukannya. “Iya Bang, lagi libur. Besok baru masuk lagi.”
“Biasanya Non kalau libur kan jalan-jalan, sama siapa.. yang sering ke sini pakai motor RX King itu..?” Pajang bertanya lagi. Fitri teringat ke Ivan, pemuda yang sering mengunjunginya, meskipun bukan pacarnya, tapi Fitri memang suka pada Ivan.
“Memangnya Abang kenal dia?” tanya Fitri sambil tersenyum.
“Ya.. dia kan juga sering beli bakso saya Non..” Pajang menjawab canggung. Kemudian menyerahkan semanguk bakso yang mengepulkan uap panas ke tangan Fitri, tanpa sengaja, tangannya menyentuh tangan Fitri yang halus. Sesaat entah kenapa badan Pajang meremang, dia belum pernah merasakan kelembutan tangan gadis secantik Fitri. Kaget kerana ada yang meraba tangannya, secara refleks Fitri menarik tangannya membuat pegangannya pada mangkuk bakso goyah, sebagian kuah bakso yang panas tumpah menyiram tangan Pajang, membuatnya meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Aduh, maaf Bang, sa.. saya tidak sengaja..” Fitri gugup setengah mati, kekagetannya saat tangannya diraba oleh Pajang sekarang berubah menjadi kepanikan kecil. Dengan spontan karena naluri sebagai perawat, Fitri langsung menyerahkan mangkuk baksonya pada temannya, dia lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, dengan cekatan Fitri mengelap tangan Pajang yang tersiram kuah panas.
“Nggak apa-apa..” kata Fitri, rasa paniknya berkurang dengan sendirinya melihat tangan Pajang tidak terluka atau melepuh. Semula Fitri takut Pajang akan marah, tapi ternyata tidak, Pajang hanya diam saja, bahkan tidak berkata apa-apa sampai Fitri selesai makan bakso.
Bagi Fitri, kejadian itu dengan mudah bisa dilupakannya, tapi tidak bagi Pajang. Kejadian itu sangat membekas di hatinya. Selama berhari-hari wajah Fitri selalu berada di dalam pikiran Pajang, seolah menari-nari di depan matanya. Dan perlahan-lahan segala pikiran itu berkembang menjadi sebuah perasaan aneh dalam diri Pajang. Perasaan yang menyimpang yang membuatnya ingin memiliki Fitri. Dan perasaan itu berkembang bagaikan makhluk buas yang mencabik-cabik dirinya dari dalam, membuatnya lupa pada keadaan dirinya, membuatnya lupa pada istri dan empat anaknya yang ditinggal di kota asalnya. Dan bila sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya pada Fitri, dia melampiaskannya dengan beronani sambil membayangkan dirinya sedang menyetubuhi Fitri. Tapi Pajang selalu bersikap biasa jika bertemu dengan Fitri, dan Fitripun selalu bersikap ramah padanya. Hal ini yang membuat keinginan Pajang untuk memiliki Fitri makin kuat. Pajang sudah salah mengartikan keramahan dan kebaikan Fitri.
Keinginan menyimpang dari dalam diri Pajang itu membuatnya malu setiap kali bertemu Fitri, bagaimanapun dia sadar dirinya terlalu jauh jika dibandingkan dengan Fitri. Fitri seorang gadis yang sangat cantik dan masih sangat belia, sementara dirinya sudah tua dan berwajah jelek. Tapi keinginan itu sangat kuat menyerang dirinya, cukup kuat untuk mendesaknya melakukan perbuatan terkutuk, dia berusaha mengguna-gunai Fitri. Dan didorong oleh keinginan yang menggebu-gebu itulah maka Pajang memberanikan diri pergi menemui dukun yang selama ini dia percayai. Pajang memang sering berkunjung ke dukun itu, terutama jika berhubungan dengan penglarisan dagangan baksonya.
Rumah dukun itu terpencil di pinggiran kota, dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat. Butuh waktu satu jam jalan kaki jika ingin bertemu dukun itu karena rumahnya tidak bisa dijangkau oleh kendaraan. Rumah itu sendiri tidak seberapa besar, bahkan bisa dibilang kecil. Sebuah rumah kayu berkesan kumuh dan hampir rusak. Kayu-kayunya sudah usang dan dimakan rayap, semantara sebagian gentingnya juga sudah pecah, ditambal oleh potongan asbes gelombang. Begitu masuk ke rumah itu, perasaan yang muncul adalah keseraman yang luar biasa. Dinding rumah yang tidak seberapa itu dipenuhi oleh tengkorak-tengkorak binatang, bahkan Pajang melihat ada beberapa tengkorak manusia terselip di sela-selanya. Keseraman makin terasa saat masuk ke ruangan dukun yang didominasi warna hitam. Ruangan tanpa jendela itu dipenuhi asap kemenyan yang membuat siapapun yang masih waras akan mabuk mencium baunya. Pajang melihat dukun itu duduk menghadapi sebuah meja pendek yang dipenuhi oleh sesaji, dupa dan benda-benda logam yang kemungkinan adalah jimat sementara di dinding sebelah kanan dan kirinya terdapat rak-rak kayu berisi puluhan kuali dan botol botol porselen yang ditutup kain berwarna merah.
“Kembali lagi rupanya,” dukun itu berujar dengan suara berat. Dia memakai semacam jubah berwarna hitam yang terkesan kedodoran. Rambutnya gondrong menjela-jela di antara bahunya. Kumis dan jenggotnya yang sebagian sudah memutih dibiarkan memanjang dan tidak terawat. Matanya nanar menatap Pajang yang berlutut ketakutan, bagian bawah matanya yang mengantung dan keriput berkedut-kedut saat menatap Pajang. Wajahnya yang tua terkesan seram ditimpa nyala lampu minyak di dekatnya, satu-satunya penerangan yang ada di situ.
“I.. iya.. Mbah..” Pajang menjawab gemetar, badannya seolah menciut seukuran botol saat mata si dukun menatapnya dengan tajam.
“Ini bukan urusan jualanmu kan?” si dukun menebak jitu, membuat Pajang mengangguk penuh takzim,mengagumi kehebatannya.
“Urusan apa? Apa kamu tidak malu datang ke sini lagi? Yang dulu saja kamu belum bisa membayar, kan?” si dukun bertanya ketus. Pajang merasa mengerut lagi. Urusan penglarisannya yang dulu memang belum dia bayar karena tidak mampu, tapi kali ini Pajang sudah merencanakan sesuatu.
“Saya pasti akan bayar Mbah..” Pajang terbata-bata. “Tapi saya tidak membayar dengan uang.”
“Lalu dengan apa?” suara si dukun menggedor jantung Pajang, membuatnya pucat ketakutan. Pajang merogoh saku bajunya dengan gemetar dan menyerahkan sesuatu pada si dukun. Si dukun menerima pemberian Pajang lalu diamatinya sebentar.
“Kamu mau membayarku dengan dia?” tanya si dukun, tapi kali ini suaranya melunak. Dikembalikannya pemberian Pajang, Pajang mengamatinya sejenak. Ternyata itu adalah foto Fitri yang sedang tersenyum manis sekali. Foto itu dicurinya dari dompet Fitri saat tertinggal di gerobaknya.
“Jadi kamu mau mengguna-gunai dia ..?” si dukun menebak lagi. Pajang mengangguk, sekali lagi dengan penuh ketakziman. Si dukun kemudian menanyakan tanggal dan hari kelahiran Fitri, Pajang langsung menyebutnya dengan lancar karena Pajang juga pernah melihat KTP Fitri. Si dukun mengangguk-angguk sesaat, lalu dia mulai merapal mantra-mantra sambil menghitung-hitung sesuatu dengan jari-jari tangannya.
“Sulit Pajang..” si dukun berujar setelah diam beberapa lama. Ajang terlihat kecewa.
“Tapi jika kamu berhasil, maka dia akan menjadi milikmu selamanya.” Si dukun melanjutkan, membuat Pajang kembali lega. “Tapi syaratnya sangat sulit.”
“Saya akan kerjakan Mbah, sesulit apapun akan saya kerjakan.” Pajang berujar mantap.
“Syaratnya, pertama kamu harus puasa mutih tujuh hari tujuh malam tanpa putus dimulai pada hari dan weton kelahirannya, lalu kamu berikan ini padanya.” Si dukun cabul itu memberi Pajang semacam cairan yang dikemas dalam botol kecil berwarna hijau.
“U.. untuk apa Mbah..?” Pajang merasa bingung.
“Itu ramuan pemikat, tolol,” si dukun membentak. “Kamu pikir cukup hanya mantra dan jampi-jampi saja? Pastikan dia meminum cairan itu dan bukan orang lain, kalau tidak, risikonya kamu tanggung sendiri.”
Pajang mengangguk mengerti. Hatinya terasa lebih riang sehingga seolah dia bisa mengambang satu setengah meter di udara saat berjalan pulang. Otaknya segera penuh dengan rencana. Dan pada satu kesempatan, ketika Fitri membeli bakso darinya Pajang dengan gesit memasukkan cairan ramuan pemikat dari dukun ke dalam mangkuk bakso Fitri, dan dengan harap-harap cemas Pajang melihat bagaimana Fitri dengan lahap menghabiskan baksonya.
Pajangpun melakukan ritual yang diperintahkan si dukun. Dan tepat pada malam yang ditentukan, Pajang mulai melancarkan mantra pengasihan yang didapatnya. Sambil membakar kemenyan, Pajang mulai membayangkan wajah Fitri. Dengan mulut berkomat-kamit dia memanggil nama Fiti sambil terus melancarkan mantra pengasihannya. Di tempat lain, Fitri yang sedang tidur mendadak menjadi gelisah, hawa di sekitarnya seolah bertambah panas mambuat sekujur badannya berkeringat. Nafasnya perlahan-lahan memburu dan terengah-engah. Di dalam tubuhnya seolah meledak sebuah dorongan aneh yang membuat nafsu birahinya meledak, seperti ada binatang buas yang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam. Dalam tidurnya, Fitri bermimpi seolah dirinya sedang bercumbu dengan Pajang. Fitri tidak tahan melawan dorongan birahi gaib itu, dia akhirnya melepas semua pakaiannya sehingga dia terbaring telanjang bulat di ranjang.
Fitri lalu mulai meremas-remas payudaranya sedniri dengan ganas sambil merintih-rintih penuh kenikmatan sambil sesekali memencet puting susunya sendiri, tangannya kemudian beralih ke selangkangannya dan mengelus-elus gundukan vaginanya sambil sesekali jari-jarinya mengaduk-aduk liang vaginanya. Persetubuhan gaib antara Fitri dan Pajang berakhir setelah Fitri mengalami orgasme, Fitri mengejang sambil merintih penuh kenikmatan, dari vaginanya mengucur cairan kewanitaan sampai akhirnya tubuhnya kembali melemas dan terbaring terengah-engah di ranjang bersimbah keringat. Di tempat lain Pajangpun merasakan kenikmatan yang sama dan akhirnya berejakulasi dengan menyemprotkan spermanya.
Sejak malam itu, perhatian Fitri terhadap Pajang berubah sama sekali. Fitri mulai terang-terangan memperlihatkan kesukaannya pada Pajang, Fitri bahkan berani menanyakan rumah Pajang dan berjanji akan mengunjunginya. Beberapa malam terakhir Fitri selalu memimpikan hal yang sama yaitu melakukan persetubuhan dengan Pajang. Hal itu yang kemudian membuat Fitri terus-menerus terbayang-bayangi oleh Pajang. Di mata Fitri sekarang Pajang bukan lagi pria tua buruk rupa tapi sudah menjelma bak pangeran dalam dongeng. Di mata Fitri sekarang Pajang adalah seorang pemuda gagah dan tampan yang senantiasa menggoda matanya, pengaruh mantra pengasihan yang diberikan si dukun benar-benar merasuki jiwa Fitri. Sementara Pajang sendiri tiap malam selalu melancarkan mantra pengasihannya pada Fitri untuk melakukan persetubuhan gaibnya dengan Fitri, Pajangpun selalu menunggu kapan dirinya bisa benar-benar menikmati tubuh Fitri. Dan akhirnya saat itupun datang juga.
Sore itu, malam Minggu tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kontrakan Pajang. Dengan tergesa-gesa Pajang membuka pintunya. Betapa kaget dan gembiranya dia ketika melihat bidadari yang selama ini diimpikannya sekarang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Eh.. Dik Fitri..” Pajang tersenyum antara gembira dan bingung. Dengan canggung Pajang mempersilakan Fitri masuk. Fitri dengan gerakan canggung mengikuti saja ajakan Pajang. Pajang merasa mendapat kesempatan dan hal ini tidak disia-siakannya. Setelah ganti baju, Pajang mengajaknya ngobrol tentang segala hal yang isa diobrolkan.
“Dik Fitri cantik banget ya hari ini” kata Pajang memuji.
“Ah, Bang Pajang bisa aja,” kata Fitri sambil tersipu malu.
“Eh beneran lho... kamu cantik banget.. kamu mau nggak jadi pacar Abang,” ujar Pajang dengan lugu dan spontan.
Semula Fitri hanya diam mendengar pertanyaan itu, saat itu Pajang mulai melancarkan mantra pengasihannya pada Fitri, dan Fitri akhirnya mengangguk. Melihat hal itu, Pajang bagai mendapat durian runtuh, seketika dia langsung memegang tangan Fitri, Fitri tidak menunjukkan perlawanan apa-apa karena sudah terpengaruh oleh mantra pengasihan Pajang. Lalu karena mendapat angin, Pajang mulai berani mencium bibir Fitri yang merah merekah itu. Dengan gerakna kasar dan rakus, Pajang melumat bibir Fitri penuh nafsu. Perlahan lidah Pajang mulai bergeliat di dalam mulut Fitri. Awalnya Fitri tidak merespon, tapi akhirnya lidahnya pun akhirnya membalas serangan-serangan lidah Pajang di dalam mulutnya secara serasi. Pajang melumat bibir Fitri yang tipis dan merah itu kira-kira hampir 5 menit dengan penuh gairah. Baru pertama kali inilah Pajang merasakan kenikmatan ciuman wanita yang menggairahkan yang tidak pernah didapatnya dari istrinya.
“Dik..., kita pindah aja yuk! jangan disini, nggak leluasa,” kata Pajang seakan-akan dia ingin mengajak Fitri melakukan hal lain selain berciuman.
“Pindah kemana?” kata Fitri.
Kita ke dalam aja,” jawab Pajang sambil menggandeng tangan Fitri. Dia kemudian mengunci pintu kontrakannya dan menggandeng Fitri masuk ke sebelah dalam. Di situ terdapat ranjang rendah berlapis kasur busa usang dengan kain seprai yang sama usangnya. Pikiran Pajang mulai tidak karuan bercampur nafsu ketika melihat Fitri tidak bereaksi apa-apa saat diajak ke dalam kamarnya.
Sesampainya kami di kamar, adegan kami berciuman kembali terulang, tak hanya itu, sewaktu mereka berciuman kedua tangan Pajangpun beraksi terhadap tubuh Fitri, awalnya Pajang hanya meraba tubuhnya, tapi akhirnya Pajang mulai meremas-remas payudara Fitri yang masih terbalut pakaian.
"..Ohh.. Fitri sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita secantik dirimu..” Pajang mulai meracau di tengah gejolak seksualnya yang kian menggebu. “seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu... akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan.."
Fitri yang sudah dirasuki matra pengasihan hanya bisa mengangguk pasrah, apalagi Pajang juga dengan buas terus-menerus menciumi dan mencumbui Fitri membuat dorongan birahi dalam diri Fitri ikut meledak, nafsu birahinya semakin menjadi jadi. Vaginanya berdenyut-denyut menahan dorongan seksualnya yang menggebu. Satu-satunya keinginannya sekarang adalah bagaimana bisa memuaskan hasrat seksualnya. Tanpa sadar Fitri mulai melepaskan bajunya satu-persatu bahkan sekaligus melepaskan BH dan celana dalamnya tanpa diminta.
Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Fitri menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair. Pajang meneguk ludah mengagumi keindahan dan kemulusan tubuh Fitri yang begitu putih bak pualam. Tanpa pikir panjang lagi Pajang juga membuka pakaiannya sampai bugil. Perlahan Pajang mulai meremas kedua belah payudara Fitri yang terasa begitu lembut di tangannya. Fitri mengejang pelan saat payudaranya disentuh pria untuk pertama kali. Nafsu seksualnya langsung meledak dahsyat. Pajang memicingkan sebelah matanya benar benar tak percaya apa yang dilihatnya, lekuk lekuk tubuh Fitri yang begitu sempurna telanjang bulat bulat terpampang dihadapannya lalu dengan kata kata bergetar ia meneruskan celotehannya
"..Ohh akhirnya kau datang Sayangku.. pahamu sungguh mulus.." Pajang menaruh kedua tangannya di paha Fitri sambil mengelusnya. Fitri bergetar hebat, sentuhan tangannya kembali menggetarkan birahinya. Fitri terangsang begitu hebat oleh sentuhan tangan Pajang yang mengelus ngelus pangkal pahanya menyentuh pinggiran vaginanya,
".. sshh.. mmhh.. oogghhss..!! Bagaikan diguyur air hangat Fitri mendesah panjang, tubuhnya terasa dialiri jutaan volt, kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat. Lalu perlahan Pajang mulai menelentangkan tubuh mulus Fitri di atas rangang dan mengatur posisi kaki Fitri mengangkang begitu rupa sehingga vaginanya terkuak. Pajang lalu mendekatkan penisnya ke bibir vagina Fitri lalu mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lubang vagina itu. Tampak kepala penis Pajang masih agak sulit masuk kedalam lubang vagina Fitri yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sekalipun.
Perlahan-lahan Pajang mulai menekan batang penisnya sehingga sedikit demi sedikit berhasil menyusup ke dalam vagina Fitri yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.
".. Aaakkhh.. sshh..! sempit sekalii..!!" Pajang menggumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya. "..Oohh Fitri sempit sekali vaginamu..”
Pajang sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan, kepala penisnya yang sudah terjepit diantara bibir vaginanya ditambah tubuh Fitri yang begitu menggiurkan mana mungkin ia bisa mempertahankannya. Lalu Pajang membuka matanya sambil memandang mata Fitri dengan penuh pengharapan. Fitri kaget bukan kepalang tubuhnya terasa lemas, rasa malu menyelubungi seluruh pikirannya tidak satupun kata yang bisa meluncur dari mulutnya. Melihat keadaan tidak begitu menunjang Pajang langsung mengambil inisiatif. Pajang langsung mencium bibir Fitri dengan mesra dan tanpa menunggu perintah lagi Pajang mulai menggerakkan pinggulnya meneruskan aktivitasnya yang tadi sempat berhenti. Pajang tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Fitri agak tersentak dan mengerang ketika batang penisnya menyeruak masuk lebih dalam vaginanya.
Mata Fitri terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat. Tak menyangka sedikitpun begitu besar batang kemaluan Pajang menerobos liang vaginanya yang belum siap menerima ukuran sedemikian besar. Tampak bibir vaginanya sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluannya.
".. Ooukkhhss.. sshh.. sakiit Bang ..! Pelaann.. pelaann.. Bang..!" Fitri menangis antara nikmat dan perih di vaginanya.
".. hhmm.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. ukkhh.. uukkhh.." Pajang mulai mengeluarkan kata kata vulgar dan terlihat Fitri agak canggung mendengarnya.
Gejolak birahi Pajang begitu menguasai tubuhnya tanpa canggung lagi mulailah ia menaik turunkan pantatnya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepada Fitri untuk pemuasan birahinya, batang penis Pajang masuk menyusup lubang vaginanya tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya.
"..aarrgghh..!!" Fitri melenguh panjang, wajahnya merah merona matanya memandang Pajang dengan pandangan sayu penuh arti seperti menahan sesuatu, mungkin menahan rasa sakit atau juga mungkin menahan rasa nikmat yang luar biasa.
Pajang betul betul terpana melihat wajah Fitri yang semakin cantik diliputi ekspresi sensasional itu. Perlahan lahan Pajang mulai aktif bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, dinding vagina Fitri yang sudah dilumuri cairan vaginanya mulai terasa licin.Wajah Fitri semakin lepas mengekspresikan rasa sensasinya yang luar biasa yang ia tidak pernah perkirakan sebegitu nikmatnya bercinta dengan Pajang, Tanpa Fitri sadari ia mulai berceloteh diluar kontrol.
"..Ohhss.. sshh.. enaak.. seekalii....!! oougghh..Teruss .. .. teerruuss..!!! Fitri mendesah, merintih dan mengerang sepuas puasnya. Fitri sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah orang yang tidak sepantasnya menggaulinya, yang ada dibenak Fitri hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.
Mereka dengan antusiasnya saling berpelukan sambil berciuman. Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan. Pajang mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Fitri yang semakin terbuka lebar, Fitripun mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil ditekuknya sampai ke kepalanya, pantatnya ikut diangkat memudahkan batang kemaluan Pajang seluruhnya masuk dan menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya, bagi Pajangpun semakin mudah menyodokkan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai kepangkal penisnya sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantatnya.
Pajang memperhatikan kearah selangkangan Fitri vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina Fitri, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu kemaluannya itu dan juga batang kemaluannya.
Pajang mendengus-dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja. Mata Pajang terlihat lapar menatap payudara Fitri yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Pajang langsung menyedot puting susu Fitri yang begitu menantang, Tubuh Fitri yang menyender dinding setengah duduk setengah terlentang menggelinjang hebat. payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya. Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Pajang yang basah dan kasar menggesek putingnya yang terasa sangat peka itu. Pajang begitu bergairah menjilati dan menghisap buah dada dan putingnya di sela-sela desah dan rintihan Fitri yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini,
"..oouugghhss ..oouugghhss.. sshh..” Fitri makin meracau tidak karuan, pikiran Fitri sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan Pajang, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali. Fitri merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhnya mulai dari ujung kakinya sampai keubun ubunnya. Tubuh Fitri akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Pajang erat sekali. Jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme. Pajang terus menggenjot tubuh Fitri yang hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Pajang menyetubuhi Fitri tanpa henti, Fitri makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan seks yang ia belum pernah rasakan. Tubuh Fitri akhirnya melemas lagi dan Pajang yang sudah tidak tahan akhirnya menyemburkan spermanya di dalam rahim Fitri.
Untuk beberapa saat Pajang membiarkan penisnya masih menancap di dalam vagina Fitri mencoba meresapi setiap kenikmatan tubuh putih mulus itu. Ditatapnya wajah Fitri yang sekarang terlihat sendu, ada sebutir air mata mengalir di pipinya. Pajang membiarkan tubuh Fitri yang berada dalam pelukannya untuk beristirahat sejenak. Dilihatnya ada bercak darah bercampur lendir putih di seprainya, Fitri memang benar-benar masih perawan. Hal itu membuat Pajang makn merasa senang karena berhasil memerawani seorang gadis secantik Fitri.
Setelah beristirahat sejenak, Pajang meminta Fitri berbalik sambil menungging, lalu dengan posisi doggy style Pajang kembali membenamkan penisnya ke dalam kemaluan Fitri, kali ini kemaluan Fitri bisa menerima setiap sodokan penis Pajang yang berukuran besar itu. Fitri merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap detail denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Pajang yang merasuk ke liang kenikmatannya, secara refleks Fitri meningkatkan sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy itu bahkan ketika Pajang menyodok penisnya yang besar itu, Fitri menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Pajang yang besar dan panjang itu masuk ke dalam vaginanya dalam sekali mengaduk-aduk seluruh rongga kenikmatannya
Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotis. Seorang wanita yang sangat cantik dan bertubuh mulus dan begitu sexy disetubuhi oleh seorang pria setengahj baya yang berkulit hitam dan buruk rupa. tubuh Fitri yang mulus ramping menungging meliuk liuk, bongkahan pantatnya yang sekal dan mulus bergerak gerak dengan liarnya, kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan, sementara buah dadanya yang montok bergoyang erotis sekali ditambah dengan erangan dan desahannya mendayu dayu memenuhi ruangan kamar, Fitri sudah berubah menjadi kuda betina liar dimana Pajang memegang kendali permainan sex ini sepenuhnya.
'Pertempuran' seks berlanjut terus, Pajang menahan erat pinggang Fitri yang ramping supaya tubuh Fitri tidak terjerembab ke depan karena vaginanya digenjot cepat sekali sampai batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, semakin deras liang vaginanya digenjot keperkasaan penisnya semakin keras erangan Fitri mengumandang dikamar yang dipenuhi hawa napsu birahi kedua insan ini. Tubuh Fitri sampai bergetar hebat, terlihat ia mengejang kuat-kuat pertanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat. Fitri benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan pedagang bakso ini.
Pajang sangat puas melihat kepasrahan Fitri, lalu ia merunduk memeluk tubuh Fitri dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Fitri, jari jari Pajang memainkan klitoris Fitri dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan penisnya yang besar itu. Fitri mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi menungging meliuk meliuk tanpa terkendali, rupanya klitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Fitri, lubang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar-putar oleh jari Pajang, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Fitri mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut, mulutnya seperti ingin teriak dan mendesah desah tak henti hentinya. Rupanya Fitri sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat luar biasaa. posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihujam oleh keperkasaannya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Fitri untuk mendapatkan multiple orgasme.
AAAAAAHHHHKKKHHHH ....!!" Fitri mengerang histeris diterjang klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih dahsyat dari yang pertama, mukanya merah merona terbakar oleh puncak birahinya wajahnya semakin cantik diliputi ekspresi kenikmatannya tubuhnya mengejang cukup lama selama orgasmenya berlangsung. Fitri benar benar takluk mendapatkan kepuasan yang luar biasa, rasa ketagihan merasuk jiwanya, ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama-lamanya dengan Pajang karena ia bisa memberikan multiple orgasme yang ia tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tubuh Fitri sudah tidak bertenaga lagi akhirnya ambruk ditempat tidur berbaring napasnya tersengal sengal, Pajang ikut membaringkan dirinya disamping Fitri. Seharian Pajang mengajari Fitri bagaimana caranya bercinta untuk menggapai kenikmatan. Satu hari penuh Fitri mendapatkan pengalaman luar biasa. Pajang merangsang nafsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi, posisi 69 pun tak lupa dipraktekkan dan Fitri menjadi murid yang cepat tanggap. Tidak bisa dihitung berapa kali Fitri mengalami orgasme, yang jelas Fitri begitu menikmati bahkan mungkin begitu ketagihan disetubuhi batang kemaluan yang begitu besar dan perkasa. Dan Pajangpun begitu puas bisa merealisasikan keinginannya menggauli Fitri yang sangat menggairahkannya. Pajang mengalami ejakulasi dengan penuh kenikmatan.
Setelah kejadian hari itu, Pajang selalu berusaha untuk bisa bertindak wajar seolah olah tidak terjadi sesuatu diantara mereka bahkan Pajang tidak terlalu memaksakan keinginannya untuk berhubungan seks kalau situasi tidak memungkinkan. Tetapi lain halnya dengan Fitri, terlihat ia begitu grogi setiap bertemu dengan Pajang terutama jika teman-temannya berada disampingnya, sulit sekali ia menutupi kegelisahannya. Sebagai seorang wanita perasaannya lebih banyak dikendalikan oleh emosinya. Setiapkali menatap Pajang walaupun Pajang berpakaian lengkap tetapi yang terbayang adalah tubuh kekarnya yang bertelanjang bulat dengan batang kemaluannya yang menantang.
Sejak hari itu Fitri tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk tidak memadu kasih dengan Pajang. Da ketika libur, ia mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk pergi ke tempat Pajang tanpa diketahui oleh teman-temannya. Pajang yang memang sengaja memanggil Fitri dengan mantra pengasihannya langsung menyambut memenuhi keinginan Fitri untuk bercinta. Saling lumat dan saling cumbu. Tangan Pajang meraba dan mengelus daerah sensitif Fitri, hingga pada puncaknya mereka saling jilat dengan posisi 69. Kepala Pajang membenam di selangkangan Fitri, menjilati dan menciumi vagina dan klitoris Fitri. Semantara Fitri juga sibuk mengocok batang kemaluan Pajang sambil mulutnya mengulum kepala batang kemaluannya, awalnya Fitri agak canggung dengan gaya permainan itu tapi Pajang yang berpengalaman membimbing Fitri untuk melakukannya. Fitri mulai terbiasa menerima penis Pajang di mulutnya, perlahan dia mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan. Lalu Fitri memajukan wajahnya, sambil melanjutkan kocokannya dia menyapukan lidahnya pada kepala penis itu.
Pajang mendesah merasakan belaian lidah Fitri pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya. Fitri sendiri walaupun merasa tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.
Fitri merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Pajang yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Pajang menekan kepalanya sambil melenguh panjang.
Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tidak mau, Fitri harus menelannya, rasanya yang asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Fitri langsung terbatuk-batuk begitu Pajang mencabut penis itu dari mulutnya.
Memang Pajang adalah guru yang baik, akhirnya Fitripun terbiasa dan boleh dibilang piawai dalam melakukan oral seks sampai Pajang orgasme, dan spermanya menyembur keluar di wajah Fitri yang cantik. Fitri lalu merebahkan badannya dan terlentang. Pajang sambil mendekati Fitri, dia lalu berbaring di dekat Fitri. Pajang mulai membelai wajahnya dan menciumi pipinya, kumisnya yang kasar seperti duri menusuk-nusuk pipi Fitri yang halus. Pajang lalu menciumi bibir Fitri dengan gerakan lembut berulang-ulang sambil tidak lupa tangannya bergerak ke payudara Fitri yang kenyal dan lembut, payudara yang putih mulus itu dibelai-belai dan diremas dengan lembut, sesekali Pajang mempermainkan puting payudara Fitri yang berwarna pink segar dengan jari-jarinya. Fitri langsung terhanyut oleh perlakuan itu, gerakan-gerakan Pajang yang sangat berpengalaman membuat pertahanannya sedikit demi sedikit bobol. Perlahan Fitri mulai memberikan respon pada ciuman Pajang, tanpa disadari, Fitri mulai membuka mulutnya dan membiarkan lidah Pajang bermain-main dengan lidahnya, bahkan Fitri mulai ikut memainkan lidahnya sendiri dan membiarkan bibirnya berpagutan dengan bibir Pajang. Sambil terus berciuman, Pajang terus membelai dan meremas-remas payudara Fitri dengan lembut. Lalu Pajang mengarahkan ciumannya ke bagian leher Fitri. Fitri menerima perlakuan itu sambil mendesah pelan.
Pajang terus menciumi sekujur leher Fitri, lalu ciumannya bergerak menelusuri bagian payudara Fitri. Dengan lidahnya, Pajang menjilat-jilat payudara mulus itu dengan lembut, ujung lidahnya sesekali menyapu puting payudara Fitri membuat Fitri makin terangsang. Desahan nafasnya mulai memburu, wajah Fitripun mulai memerah. Fitri seperti berada di lautan kenikmatan yang maha luas dan akhirnya seperti biasanya pula batang kemaluan Pajang yang besar mengaduk liang kenikmatannya. Dan seperti yang didambakan Fitri, Pajang melambungkannya terbang melayang layang diawang awang menggapai puncak kenikmatan yang tertinggi. Gesekan penis di dalam vaginanya memberikan sensasi luar biasa pada sekujur tubuh Fitri membuatnya mengejang dan bergerak liar. Fitri benar-benar menikmati persetubuhan dengan Pajang. Dia membiarkan saja saat Pajang kembali menciumi bibirnya ditengah-tengah persetubuhan. Bahkan ketika Pajang menghentikan genjotannya, secara tidak sadar Fitri gantian menggerak-gerakkan pantatnya, dan Fitri pun menurut saja ketika Pajang menyuruhnya berganti posisi. Entah sudah berapa posisi yang dipraktekkan mereka. Fitri sendiri sudah mengalami berkali-kali orgasme, dia mendesah-desah menyebut nama Pajang, Sementara penis Pajang terasa semakin berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya dengan geraman panjang dia menumpahkan spermanya ke dalam rahim Fitri.
Dan hari-hari berikutnya Fitri makin sering berkunjung ke tempat Pajang, kesempatan itupun kembali digunakan Pajang untuk bisa menikmati kenikmatan tubuh Fitri yang memang sangat didambakannya. Fitri sendiri sudah begitu terlena oleh Pajang, selain oleh mantra pengasihan yang dimiliki Pajang juga merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Pajang menyetubuhinya. Kini setelah kejadian itu, mereka selalu terlihat sering berdua. Fitri selalu datang ke kontrakan pajang sekedar untuk melepaskan unek-uneknya tentang masalah kampus namun bagi Pajang itulah saat baginya untuk menikmati kehangatan dan kemulusan tubuh Fitri. Pajang pun akhirnya menikmati tubuh Fitri yang merupakan calon perawat itu dengan sembunyi-sembunyi, Fitripun kini telah memutuskan hubungan dengan pacarnya dan ia menerima pajang sebagai calon suaminya.
“Fit.. itu.. Bang Pajang sudah datang, katanya mau beli bakso..” kata seorang wanita muda pada temannya yang juga masih muda. Gadis yang disapa “Fit’ tadi melongokkan kepalanya , nama lengkapnya Nurfitriana. Sering disapa dengan sebutan Fitri. Usianya baru menginjak 20 tahun. Wajahnya cantik sekali dengan kulit putih bersih, wajahnya bulat dengan hidung mancung bermata hitam bening berkilat-kilat. Orang akan menyangka Fitri adalah seorang bintang sinetron kalau belum tahu. Rambutnya hitam legam sepunggung, dibiarkannya selalu tergerai, senantiasa melompat ke kiri dan ke kanan jika Fitri berjalan. Tidak heran kalau Fitri berada di dekat temannya, dia akan menjadi sangat menonjol, apalagi dengan temannya yang sekarang bersamanya, sangat jauh bedanya. Yang satu putih, yang satu agak hitam, yang satu cantik, yang satu tidak menarik. Untungnya Fitri bukan tipe gadis yang sombong dan pilih-pilih teman, mungkin itu yang membuatnya disukai di antara teman-temannya.
“Mana sih?” Fitri melongok ke arah suara kentongan. Dia berlari kecil ke luar pagar Asramanya. Fitri memang tinggal di Asrama. Sekolahnya mengharuskan itu. Kebetulan Fitri sekolah di Sekolah Perawat Kesehatan di Tasikmalaya. Orang paling senang melihat Fitri memakai seragam perawatnya yang serba putih, itu membuat tubuhnya jadi terlihat makin putih.
“Itu, di ujung jalan,” temannya yang menyusul di belakang menjawab sambil menunjuk. Sebuah gerobak bakso kecil berwarna biru kusam berjalan mendekat dari arah ujung jalan dan makin-lama makin mendekat. Tukang baksonya bernama Pajang, orangnya sudah berumur sekitar 40 sampai 50 an, rambutnya sudah memutih sebagian, sementara kumis dan janggutnya yang juga memutih terlihat tidak terawat, kalau saja dia tidak berdagang bakso, orang mungkin akan mengira dia orang gila kerena suka tersenyum-senyum sendiri.
“Eh, Non Fitri,” Pajang mengembangkan senyumnya saat bertemu dengan Fitri, sebaris gigi kuning kehitaman terlihat berbaris di balik bibirnya yang tebal, wajahnya yang kotor tidak terawat berusaha tersenyum, tapi yang ada justru sebuah seringai mengerikan.
“Eh.. iya Bang..” Fitri berusaha ramah dan membalas senyum Pajang.
“Yang biasa Non?” tanya Pajang dengan nada aneh, seperti ramah yang dipaksakan. Dengan gerakan terburu-buru Pajang menyiapkan Bakso yang dipesan.
“Kok nggak kuliah Non?” tanya Pajang di tengah kesibukannya. “Memang lagi libur ya?”
“Eh..” Fitri terkaget sesaat. Dalam pikirannya dari mana Pajang tahu kesibukannya. “Iya Bang, lagi libur. Besok baru masuk lagi.”
“Biasanya Non kalau libur kan jalan-jalan, sama siapa.. yang sering ke sini pakai motor RX King itu..?” Pajang bertanya lagi. Fitri teringat ke Ivan, pemuda yang sering mengunjunginya, meskipun bukan pacarnya, tapi Fitri memang suka pada Ivan.
“Memangnya Abang kenal dia?” tanya Fitri sambil tersenyum.
“Ya.. dia kan juga sering beli bakso saya Non..” Pajang menjawab canggung. Kemudian menyerahkan semanguk bakso yang mengepulkan uap panas ke tangan Fitri, tanpa sengaja, tangannya menyentuh tangan Fitri yang halus. Sesaat entah kenapa badan Pajang meremang, dia belum pernah merasakan kelembutan tangan gadis secantik Fitri. Kaget kerana ada yang meraba tangannya, secara refleks Fitri menarik tangannya membuat pegangannya pada mangkuk bakso goyah, sebagian kuah bakso yang panas tumpah menyiram tangan Pajang, membuatnya meringis kesakitan sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
“Aduh, maaf Bang, sa.. saya tidak sengaja..” Fitri gugup setengah mati, kekagetannya saat tangannya diraba oleh Pajang sekarang berubah menjadi kepanikan kecil. Dengan spontan karena naluri sebagai perawat, Fitri langsung menyerahkan mangkuk baksonya pada temannya, dia lalu mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya, dengan cekatan Fitri mengelap tangan Pajang yang tersiram kuah panas.
“Nggak apa-apa..” kata Fitri, rasa paniknya berkurang dengan sendirinya melihat tangan Pajang tidak terluka atau melepuh. Semula Fitri takut Pajang akan marah, tapi ternyata tidak, Pajang hanya diam saja, bahkan tidak berkata apa-apa sampai Fitri selesai makan bakso.
Bagi Fitri, kejadian itu dengan mudah bisa dilupakannya, tapi tidak bagi Pajang. Kejadian itu sangat membekas di hatinya. Selama berhari-hari wajah Fitri selalu berada di dalam pikiran Pajang, seolah menari-nari di depan matanya. Dan perlahan-lahan segala pikiran itu berkembang menjadi sebuah perasaan aneh dalam diri Pajang. Perasaan yang menyimpang yang membuatnya ingin memiliki Fitri. Dan perasaan itu berkembang bagaikan makhluk buas yang mencabik-cabik dirinya dari dalam, membuatnya lupa pada keadaan dirinya, membuatnya lupa pada istri dan empat anaknya yang ditinggal di kota asalnya. Dan bila sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya pada Fitri, dia melampiaskannya dengan beronani sambil membayangkan dirinya sedang menyetubuhi Fitri. Tapi Pajang selalu bersikap biasa jika bertemu dengan Fitri, dan Fitripun selalu bersikap ramah padanya. Hal ini yang membuat keinginan Pajang untuk memiliki Fitri makin kuat. Pajang sudah salah mengartikan keramahan dan kebaikan Fitri.
Keinginan menyimpang dari dalam diri Pajang itu membuatnya malu setiap kali bertemu Fitri, bagaimanapun dia sadar dirinya terlalu jauh jika dibandingkan dengan Fitri. Fitri seorang gadis yang sangat cantik dan masih sangat belia, sementara dirinya sudah tua dan berwajah jelek. Tapi keinginan itu sangat kuat menyerang dirinya, cukup kuat untuk mendesaknya melakukan perbuatan terkutuk, dia berusaha mengguna-gunai Fitri. Dan didorong oleh keinginan yang menggebu-gebu itulah maka Pajang memberanikan diri pergi menemui dukun yang selama ini dia percayai. Pajang memang sering berkunjung ke dukun itu, terutama jika berhubungan dengan penglarisan dagangan baksonya.
Rumah dukun itu terpencil di pinggiran kota, dikelilingi oleh hutan yang cukup lebat. Butuh waktu satu jam jalan kaki jika ingin bertemu dukun itu karena rumahnya tidak bisa dijangkau oleh kendaraan. Rumah itu sendiri tidak seberapa besar, bahkan bisa dibilang kecil. Sebuah rumah kayu berkesan kumuh dan hampir rusak. Kayu-kayunya sudah usang dan dimakan rayap, semantara sebagian gentingnya juga sudah pecah, ditambal oleh potongan asbes gelombang. Begitu masuk ke rumah itu, perasaan yang muncul adalah keseraman yang luar biasa. Dinding rumah yang tidak seberapa itu dipenuhi oleh tengkorak-tengkorak binatang, bahkan Pajang melihat ada beberapa tengkorak manusia terselip di sela-selanya. Keseraman makin terasa saat masuk ke ruangan dukun yang didominasi warna hitam. Ruangan tanpa jendela itu dipenuhi asap kemenyan yang membuat siapapun yang masih waras akan mabuk mencium baunya. Pajang melihat dukun itu duduk menghadapi sebuah meja pendek yang dipenuhi oleh sesaji, dupa dan benda-benda logam yang kemungkinan adalah jimat sementara di dinding sebelah kanan dan kirinya terdapat rak-rak kayu berisi puluhan kuali dan botol botol porselen yang ditutup kain berwarna merah.
“Kembali lagi rupanya,” dukun itu berujar dengan suara berat. Dia memakai semacam jubah berwarna hitam yang terkesan kedodoran. Rambutnya gondrong menjela-jela di antara bahunya. Kumis dan jenggotnya yang sebagian sudah memutih dibiarkan memanjang dan tidak terawat. Matanya nanar menatap Pajang yang berlutut ketakutan, bagian bawah matanya yang mengantung dan keriput berkedut-kedut saat menatap Pajang. Wajahnya yang tua terkesan seram ditimpa nyala lampu minyak di dekatnya, satu-satunya penerangan yang ada di situ.
“I.. iya.. Mbah..” Pajang menjawab gemetar, badannya seolah menciut seukuran botol saat mata si dukun menatapnya dengan tajam.
“Ini bukan urusan jualanmu kan?” si dukun menebak jitu, membuat Pajang mengangguk penuh takzim,mengagumi kehebatannya.
“Urusan apa? Apa kamu tidak malu datang ke sini lagi? Yang dulu saja kamu belum bisa membayar, kan?” si dukun bertanya ketus. Pajang merasa mengerut lagi. Urusan penglarisannya yang dulu memang belum dia bayar karena tidak mampu, tapi kali ini Pajang sudah merencanakan sesuatu.
“Saya pasti akan bayar Mbah..” Pajang terbata-bata. “Tapi saya tidak membayar dengan uang.”
“Lalu dengan apa?” suara si dukun menggedor jantung Pajang, membuatnya pucat ketakutan. Pajang merogoh saku bajunya dengan gemetar dan menyerahkan sesuatu pada si dukun. Si dukun menerima pemberian Pajang lalu diamatinya sebentar.
“Kamu mau membayarku dengan dia?” tanya si dukun, tapi kali ini suaranya melunak. Dikembalikannya pemberian Pajang, Pajang mengamatinya sejenak. Ternyata itu adalah foto Fitri yang sedang tersenyum manis sekali. Foto itu dicurinya dari dompet Fitri saat tertinggal di gerobaknya.
“Jadi kamu mau mengguna-gunai dia ..?” si dukun menebak lagi. Pajang mengangguk, sekali lagi dengan penuh ketakziman. Si dukun kemudian menanyakan tanggal dan hari kelahiran Fitri, Pajang langsung menyebutnya dengan lancar karena Pajang juga pernah melihat KTP Fitri. Si dukun mengangguk-angguk sesaat, lalu dia mulai merapal mantra-mantra sambil menghitung-hitung sesuatu dengan jari-jari tangannya.
“Sulit Pajang..” si dukun berujar setelah diam beberapa lama. Ajang terlihat kecewa.
“Tapi jika kamu berhasil, maka dia akan menjadi milikmu selamanya.” Si dukun melanjutkan, membuat Pajang kembali lega. “Tapi syaratnya sangat sulit.”
“Saya akan kerjakan Mbah, sesulit apapun akan saya kerjakan.” Pajang berujar mantap.
“Syaratnya, pertama kamu harus puasa mutih tujuh hari tujuh malam tanpa putus dimulai pada hari dan weton kelahirannya, lalu kamu berikan ini padanya.” Si dukun cabul itu memberi Pajang semacam cairan yang dikemas dalam botol kecil berwarna hijau.
“U.. untuk apa Mbah..?” Pajang merasa bingung.
“Itu ramuan pemikat, tolol,” si dukun membentak. “Kamu pikir cukup hanya mantra dan jampi-jampi saja? Pastikan dia meminum cairan itu dan bukan orang lain, kalau tidak, risikonya kamu tanggung sendiri.”
Pajang mengangguk mengerti. Hatinya terasa lebih riang sehingga seolah dia bisa mengambang satu setengah meter di udara saat berjalan pulang. Otaknya segera penuh dengan rencana. Dan pada satu kesempatan, ketika Fitri membeli bakso darinya Pajang dengan gesit memasukkan cairan ramuan pemikat dari dukun ke dalam mangkuk bakso Fitri, dan dengan harap-harap cemas Pajang melihat bagaimana Fitri dengan lahap menghabiskan baksonya.
Pajangpun melakukan ritual yang diperintahkan si dukun. Dan tepat pada malam yang ditentukan, Pajang mulai melancarkan mantra pengasihan yang didapatnya. Sambil membakar kemenyan, Pajang mulai membayangkan wajah Fitri. Dengan mulut berkomat-kamit dia memanggil nama Fiti sambil terus melancarkan mantra pengasihannya. Di tempat lain, Fitri yang sedang tidur mendadak menjadi gelisah, hawa di sekitarnya seolah bertambah panas mambuat sekujur badannya berkeringat. Nafasnya perlahan-lahan memburu dan terengah-engah. Di dalam tubuhnya seolah meledak sebuah dorongan aneh yang membuat nafsu birahinya meledak, seperti ada binatang buas yang mencabik-cabik tubuhnya dari dalam. Dalam tidurnya, Fitri bermimpi seolah dirinya sedang bercumbu dengan Pajang. Fitri tidak tahan melawan dorongan birahi gaib itu, dia akhirnya melepas semua pakaiannya sehingga dia terbaring telanjang bulat di ranjang.
Fitri lalu mulai meremas-remas payudaranya sedniri dengan ganas sambil merintih-rintih penuh kenikmatan sambil sesekali memencet puting susunya sendiri, tangannya kemudian beralih ke selangkangannya dan mengelus-elus gundukan vaginanya sambil sesekali jari-jarinya mengaduk-aduk liang vaginanya. Persetubuhan gaib antara Fitri dan Pajang berakhir setelah Fitri mengalami orgasme, Fitri mengejang sambil merintih penuh kenikmatan, dari vaginanya mengucur cairan kewanitaan sampai akhirnya tubuhnya kembali melemas dan terbaring terengah-engah di ranjang bersimbah keringat. Di tempat lain Pajangpun merasakan kenikmatan yang sama dan akhirnya berejakulasi dengan menyemprotkan spermanya.
Sejak malam itu, perhatian Fitri terhadap Pajang berubah sama sekali. Fitri mulai terang-terangan memperlihatkan kesukaannya pada Pajang, Fitri bahkan berani menanyakan rumah Pajang dan berjanji akan mengunjunginya. Beberapa malam terakhir Fitri selalu memimpikan hal yang sama yaitu melakukan persetubuhan dengan Pajang. Hal itu yang kemudian membuat Fitri terus-menerus terbayang-bayangi oleh Pajang. Di mata Fitri sekarang Pajang bukan lagi pria tua buruk rupa tapi sudah menjelma bak pangeran dalam dongeng. Di mata Fitri sekarang Pajang adalah seorang pemuda gagah dan tampan yang senantiasa menggoda matanya, pengaruh mantra pengasihan yang diberikan si dukun benar-benar merasuki jiwa Fitri. Sementara Pajang sendiri tiap malam selalu melancarkan mantra pengasihannya pada Fitri untuk melakukan persetubuhan gaibnya dengan Fitri, Pajangpun selalu menunggu kapan dirinya bisa benar-benar menikmati tubuh Fitri. Dan akhirnya saat itupun datang juga.
Sore itu, malam Minggu tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kontrakan Pajang. Dengan tergesa-gesa Pajang membuka pintunya. Betapa kaget dan gembiranya dia ketika melihat bidadari yang selama ini diimpikannya sekarang berdiri di depan pintu rumahnya.
“Eh.. Dik Fitri..” Pajang tersenyum antara gembira dan bingung. Dengan canggung Pajang mempersilakan Fitri masuk. Fitri dengan gerakan canggung mengikuti saja ajakan Pajang. Pajang merasa mendapat kesempatan dan hal ini tidak disia-siakannya. Setelah ganti baju, Pajang mengajaknya ngobrol tentang segala hal yang isa diobrolkan.
“Dik Fitri cantik banget ya hari ini” kata Pajang memuji.
“Ah, Bang Pajang bisa aja,” kata Fitri sambil tersipu malu.
“Eh beneran lho... kamu cantik banget.. kamu mau nggak jadi pacar Abang,” ujar Pajang dengan lugu dan spontan.
Semula Fitri hanya diam mendengar pertanyaan itu, saat itu Pajang mulai melancarkan mantra pengasihannya pada Fitri, dan Fitri akhirnya mengangguk. Melihat hal itu, Pajang bagai mendapat durian runtuh, seketika dia langsung memegang tangan Fitri, Fitri tidak menunjukkan perlawanan apa-apa karena sudah terpengaruh oleh mantra pengasihan Pajang. Lalu karena mendapat angin, Pajang mulai berani mencium bibir Fitri yang merah merekah itu. Dengan gerakna kasar dan rakus, Pajang melumat bibir Fitri penuh nafsu. Perlahan lidah Pajang mulai bergeliat di dalam mulut Fitri. Awalnya Fitri tidak merespon, tapi akhirnya lidahnya pun akhirnya membalas serangan-serangan lidah Pajang di dalam mulutnya secara serasi. Pajang melumat bibir Fitri yang tipis dan merah itu kira-kira hampir 5 menit dengan penuh gairah. Baru pertama kali inilah Pajang merasakan kenikmatan ciuman wanita yang menggairahkan yang tidak pernah didapatnya dari istrinya.
“Dik..., kita pindah aja yuk! jangan disini, nggak leluasa,” kata Pajang seakan-akan dia ingin mengajak Fitri melakukan hal lain selain berciuman.
“Pindah kemana?” kata Fitri.
Kita ke dalam aja,” jawab Pajang sambil menggandeng tangan Fitri. Dia kemudian mengunci pintu kontrakannya dan menggandeng Fitri masuk ke sebelah dalam. Di situ terdapat ranjang rendah berlapis kasur busa usang dengan kain seprai yang sama usangnya. Pikiran Pajang mulai tidak karuan bercampur nafsu ketika melihat Fitri tidak bereaksi apa-apa saat diajak ke dalam kamarnya.
Sesampainya kami di kamar, adegan kami berciuman kembali terulang, tak hanya itu, sewaktu mereka berciuman kedua tangan Pajangpun beraksi terhadap tubuh Fitri, awalnya Pajang hanya meraba tubuhnya, tapi akhirnya Pajang mulai meremas-remas payudara Fitri yang masih terbalut pakaian.
"..Ohh.. Fitri sudah lama aku tidak bergaul dengan wanita secantik dirimu..” Pajang mulai meracau di tengah gejolak seksualnya yang kian menggebu. “seandainya kau bersedia, ingin rasanya aku menyetubuhimu... akan kuberikan kepuasan yang kau dambakan.."
Fitri yang sudah dirasuki matra pengasihan hanya bisa mengangguk pasrah, apalagi Pajang juga dengan buas terus-menerus menciumi dan mencumbui Fitri membuat dorongan birahi dalam diri Fitri ikut meledak, nafsu birahinya semakin menjadi jadi. Vaginanya berdenyut-denyut menahan dorongan seksualnya yang menggebu. Satu-satunya keinginannya sekarang adalah bagaimana bisa memuaskan hasrat seksualnya. Tanpa sadar Fitri mulai melepaskan bajunya satu-persatu bahkan sekaligus melepaskan BH dan celana dalamnya tanpa diminta.
Dengan tubuh bugil putih mulus sungguh sangat sexy Fitri menaiki tempat tidur sambil mengangkat pantatnya yang sexy buah dadanya yang membusung ikut bergoyang, lalu dengan perlahan ia membuka kedua pahanya sehingga kelihatan vaginanya yang juga membusung, bibirnya terbelah merekah kemerah-merahan diantara bulu bulu kemaluannya yang halus dan sudah kelihatan basah berair. Pajang meneguk ludah mengagumi keindahan dan kemulusan tubuh Fitri yang begitu putih bak pualam. Tanpa pikir panjang lagi Pajang juga membuka pakaiannya sampai bugil. Perlahan Pajang mulai meremas kedua belah payudara Fitri yang terasa begitu lembut di tangannya. Fitri mengejang pelan saat payudaranya disentuh pria untuk pertama kali. Nafsu seksualnya langsung meledak dahsyat. Pajang memicingkan sebelah matanya benar benar tak percaya apa yang dilihatnya, lekuk lekuk tubuh Fitri yang begitu sempurna telanjang bulat bulat terpampang dihadapannya lalu dengan kata kata bergetar ia meneruskan celotehannya
"..Ohh akhirnya kau datang Sayangku.. pahamu sungguh mulus.." Pajang menaruh kedua tangannya di paha Fitri sambil mengelusnya. Fitri bergetar hebat, sentuhan tangannya kembali menggetarkan birahinya. Fitri terangsang begitu hebat oleh sentuhan tangan Pajang yang mengelus ngelus pangkal pahanya menyentuh pinggiran vaginanya,
".. sshh.. mmhh.. oogghhss..!! Bagaikan diguyur air hangat Fitri mendesah panjang, tubuhnya terasa dialiri jutaan volt, kenikmatan napsu birahinya makin terangsang hebat. Lalu perlahan Pajang mulai menelentangkan tubuh mulus Fitri di atas rangang dan mengatur posisi kaki Fitri mengangkang begitu rupa sehingga vaginanya terkuak. Pajang lalu mendekatkan penisnya ke bibir vagina Fitri lalu mulai menekan kepala penis yang sudah pas berada di posisi mulut lubang vagina itu. Tampak kepala penis Pajang masih agak sulit masuk kedalam lubang vagina Fitri yang walaupun sudah basah dan berair itu karena belum pernah kemasukan penis sekalipun.
Perlahan-lahan Pajang mulai menekan batang penisnya sehingga sedikit demi sedikit berhasil menyusup ke dalam vagina Fitri yang terasa sekali masih sempit walaupun sudah begitu basah.
".. Aaakkhh.. sshh..! sempit sekalii..!!" Pajang menggumam sendiri sambil menggelengkan kepalanya. "..Oohh Fitri sempit sekali vaginamu..”
Pajang sudah tidak sanggup lagi untuk bertahan, kepala penisnya yang sudah terjepit diantara bibir vaginanya ditambah tubuh Fitri yang begitu menggiurkan mana mungkin ia bisa mempertahankannya. Lalu Pajang membuka matanya sambil memandang mata Fitri dengan penuh pengharapan. Fitri kaget bukan kepalang tubuhnya terasa lemas, rasa malu menyelubungi seluruh pikirannya tidak satupun kata yang bisa meluncur dari mulutnya. Melihat keadaan tidak begitu menunjang Pajang langsung mengambil inisiatif. Pajang langsung mencium bibir Fitri dengan mesra dan tanpa menunggu perintah lagi Pajang mulai menggerakkan pinggulnya meneruskan aktivitasnya yang tadi sempat berhenti. Pajang tersenyum puas lalu dengan sekali sentakan mendorong pantatnya keatas, tampak Fitri agak tersentak dan mengerang ketika batang penisnya menyeruak masuk lebih dalam vaginanya.
Mata Fitri terbeliak dengan mulut terbuka sambil kedua tangannya mencengkeram sprei dengan kuat-kuat. Tak menyangka sedikitpun begitu besar batang kemaluan Pajang menerobos liang vaginanya yang belum siap menerima ukuran sedemikian besar. Tampak bibir vaginanya sampai terkuak lebar seperti terkelupas seakan-akan tidak muat untuk menelan besarnya kemaluannya.
".. Ooukkhhss.. sshh.. sakiit Bang ..! Pelaann.. pelaann.. Bang..!" Fitri menangis antara nikmat dan perih di vaginanya.
".. hhmm.. tempikmu.. niikmaat.. sekalii.. ukkhh.. uukkhh.." Pajang mulai mengeluarkan kata kata vulgar dan terlihat Fitri agak canggung mendengarnya.
Gejolak birahi Pajang begitu menguasai tubuhnya tanpa canggung lagi mulailah ia menaik turunkan pantatnya mencari dan menggali kenikmatan yang ia ingin berikan kepada Fitri untuk pemuasan birahinya, batang penis Pajang masuk menyusup lubang vaginanya tahap demi tahap hingga akhirnya amblas semuanya.
"..aarrgghh..!!" Fitri melenguh panjang, wajahnya merah merona matanya memandang Pajang dengan pandangan sayu penuh arti seperti menahan sesuatu, mungkin menahan rasa sakit atau juga mungkin menahan rasa nikmat yang luar biasa.
Pajang betul betul terpana melihat wajah Fitri yang semakin cantik diliputi ekspresi sensasional itu. Perlahan lahan Pajang mulai aktif bergoyang menarik ulur batang kemaluannya yang besar itu, dinding vagina Fitri yang sudah dilumuri cairan vaginanya mulai terasa licin.Wajah Fitri semakin lepas mengekspresikan rasa sensasinya yang luar biasa yang ia tidak pernah perkirakan sebegitu nikmatnya bercinta dengan Pajang, Tanpa Fitri sadari ia mulai berceloteh diluar kontrol.
"..Ohhss.. sshh.. enaak.. seekalii....!! oougghh..Teruss .. .. teerruuss..!!! Fitri mendesah, merintih dan mengerang sepuas puasnya. Fitri sudah lupa diri bahwa yang menyetubuhi dirinya adalah orang yang tidak sepantasnya menggaulinya, yang ada dibenak Fitri hanyalah letupan birahi yang harus dituntaskan.
Mereka dengan antusiasnya saling berpelukan sambil berciuman. Terdengar suara nafas mereka saling memburu kencang, lidah mereka saling mengait dan saling menyedot, saling bergulingan. Pajang mengambil inisiatif dengan menggenjot pantatnya yang tampak naik turun semakin cepat diantara selangkangan Fitri yang semakin terbuka lebar, Fitripun mengangkat kedua kakinya tinggi tinggi sambil ditekuknya sampai ke kepalanya, pantatnya ikut diangkat memudahkan batang kemaluan Pajang seluruhnya masuk dan menggesek seluruh syaraf syaraf kenikmatan dirongga vaginanya, bagi Pajangpun semakin mudah menyodokkan penisnya yang panjang besar itu keluar masuk sampai kepangkal penisnya sampai menghasilkan suara bedecak-decak seperti suara membecek seiring dengan naik turunnya pantatnya.
Pajang memperhatikan kearah selangkangan Fitri vaginanya mencengkeram penisnya erat sekali, ia tersenyum puas bisa menaklukkan vagina Fitri, yang sudah basah membanjir penuh dengan cairan putih kental sehingga membasahi bulu-bulu kemaluannya itu dan juga batang kemaluannya.
Pajang mendengus-dengus bagai banteng terluka genjotannya makin ganas saja. Mata Pajang terlihat lapar menatap payudara Fitri yang putih montok dikelilingi bulatan pink ditengahnya terlihat putingnya yang sudah begitu mengeras, tanpa menyia nyiakan kesempatan Pajang langsung menyedot puting susu Fitri yang begitu menantang, Tubuh Fitri yang menyender dinding setengah duduk setengah terlentang menggelinjang hebat. payudaranya makin dibusungkan bahkan tubuhnya digerakkan kekiri dan kekanan supaya kedua puting buah dadanya yang sudah gatal itu mendapatkan giliran dari serbuan mulutnya. Desahan penuh birahi langsung terlontar tak tertahankan begitu lidah Pajang yang basah dan kasar menggesek putingnya yang terasa sangat peka itu. Pajang begitu bergairah menjilati dan menghisap buah dada dan putingnya di sela-sela desah dan rintihan Fitri yang sangat menikmati gelombang rangsangan demi rangsangan yang semakin lama semakin menggelora ini,
"..oouugghhss ..oouugghhss.. sshh..” Fitri makin meracau tidak karuan, pikiran Fitri sudah tidak jernih lagi, terombang ambing didalam pusaran kenikmatan, terseret didalam pergumulan sex dengan Pajang, jiwanya serasa seenteng kapas melambung tinggi sekali. Fitri merasakan kenikmatan bagai air bah mengalir ke seluruh tubuhnya mulai dari ujung kakinya sampai keubun ubunnya. Tubuh Fitri akhirnya mengejang sambil memeluk tubuh Pajang erat sekali. Jiwanya terasa berputar putar merasakan semburan kenikmatan yang dahsyat diterjang gelombang orgasme. Pajang terus menggenjot tubuh Fitri yang hanya pasrah dipelukannya mengharapkan gelombang kenikmatan selanjutnya. Lebih dari sejam Pajang menyetubuhi Fitri tanpa henti, Fitri makin lama makin terseret didalam kenikmatan pergumulan seks yang ia belum pernah rasakan. Tubuh Fitri akhirnya melemas lagi dan Pajang yang sudah tidak tahan akhirnya menyemburkan spermanya di dalam rahim Fitri.
Untuk beberapa saat Pajang membiarkan penisnya masih menancap di dalam vagina Fitri mencoba meresapi setiap kenikmatan tubuh putih mulus itu. Ditatapnya wajah Fitri yang sekarang terlihat sendu, ada sebutir air mata mengalir di pipinya. Pajang membiarkan tubuh Fitri yang berada dalam pelukannya untuk beristirahat sejenak. Dilihatnya ada bercak darah bercampur lendir putih di seprainya, Fitri memang benar-benar masih perawan. Hal itu membuat Pajang makn merasa senang karena berhasil memerawani seorang gadis secantik Fitri.
Setelah beristirahat sejenak, Pajang meminta Fitri berbalik sambil menungging, lalu dengan posisi doggy style Pajang kembali membenamkan penisnya ke dalam kemaluan Fitri, kali ini kemaluan Fitri bisa menerima setiap sodokan penis Pajang yang berukuran besar itu. Fitri merasakan liang vaginanya menyempit karena tertekuk oleh perutnya sehingga ia merasakan setiap detail denyutan kenikmatan yang dihasilkan oleh batang penis Pajang yang merasuk ke liang kenikmatannya, secara refleks Fitri meningkatkan sensasi sensual ini dengan memutar mutar pantatnya yang putih sexy itu bahkan ketika Pajang menyodok penisnya yang besar itu, Fitri menyambutnya dengan mendorong keras pantatnya kebelakang sehingga penis Pajang yang besar dan panjang itu masuk ke dalam vaginanya dalam sekali mengaduk-aduk seluruh rongga kenikmatannya
Apa yang terlihat sungguh merupakan pemandangan yang sangat erotis. Seorang wanita yang sangat cantik dan bertubuh mulus dan begitu sexy disetubuhi oleh seorang pria setengahj baya yang berkulit hitam dan buruk rupa. tubuh Fitri yang mulus ramping menungging meliuk liuk, bongkahan pantatnya yang sekal dan mulus bergerak gerak dengan liarnya, kepalanya bergeleng kekiri dan kekanan, sementara buah dadanya yang montok bergoyang erotis sekali ditambah dengan erangan dan desahannya mendayu dayu memenuhi ruangan kamar, Fitri sudah berubah menjadi kuda betina liar dimana Pajang memegang kendali permainan sex ini sepenuhnya.
'Pertempuran' seks berlanjut terus, Pajang menahan erat pinggang Fitri yang ramping supaya tubuh Fitri tidak terjerembab ke depan karena vaginanya digenjot cepat sekali sampai batang penisnya yang besar keluar masuk liang vagina begitu dahsyat tanpa ampun, semakin deras liang vaginanya digenjot keperkasaan penisnya semakin keras erangan Fitri mengumandang dikamar yang dipenuhi hawa napsu birahi kedua insan ini. Tubuh Fitri sampai bergetar hebat, terlihat ia mengejang kuat-kuat pertanda ia sedang mengalami kenikmatan yang maha dahsyat. Fitri benar benar melayang kelangit yang ketujuh didalam pergumulan sexnya dengan pedagang bakso ini.
Pajang sangat puas melihat kepasrahan Fitri, lalu ia merunduk memeluk tubuh Fitri dari belakang tangannya merogoh keselangkangan Fitri, jari jari Pajang memainkan klitoris Fitri dengan memutar mutarnya, sambil menggenjot dengan penisnya yang besar itu. Fitri mengerang dengan liar, tubuhnya yang dalam posisi menungging meliuk meliuk tanpa terkendali, rupanya klitorisnya merupakan alat kelamin yang paling sensitif buat Fitri, lubang vaginanya yang sudah dihajar begitu rupa oleh penis yang berukuran luar biasa itu ditambah clitorisnya ditekan sambil diputar-putar oleh jari Pajang, maka sempurnalah puncak kenikmatan yang ia rasakan, tangan Fitri mencengkeram sprei erat sekali, dahinya berkerut, mulutnya seperti ingin teriak dan mendesah desah tak henti hentinya. Rupanya Fitri sedang dilanda kenikmatan yang amat sangat luar biasaa. posisi tubuhnya yang sedang menungging makin ditunggingkan pantatnya keatas memasrahkan vaginanya dihujam oleh keperkasaannya dengan mengharapkan kedatangan gelombang kenikmatan berikutnya yang merupakan pengalaman pertama buat Fitri untuk mendapatkan multiple orgasme.
AAAAAAHHHHKKKHHHH ....!!" Fitri mengerang histeris diterjang klimaks keduanya yang lebih panjang dan lebih dahsyat dari yang pertama, mukanya merah merona terbakar oleh puncak birahinya wajahnya semakin cantik diliputi ekspresi kenikmatannya tubuhnya mengejang cukup lama selama orgasmenya berlangsung. Fitri benar benar takluk mendapatkan kepuasan yang luar biasa, rasa ketagihan merasuk jiwanya, ingin rasanya melanjutkan persetubuhannya selama-lamanya dengan Pajang karena ia bisa memberikan multiple orgasme yang ia tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
Tubuh Fitri sudah tidak bertenaga lagi akhirnya ambruk ditempat tidur berbaring napasnya tersengal sengal, Pajang ikut membaringkan dirinya disamping Fitri. Seharian Pajang mengajari Fitri bagaimana caranya bercinta untuk menggapai kenikmatan. Satu hari penuh Fitri mendapatkan pengalaman luar biasa. Pajang merangsang nafsu birahinya dengan menyetubuhi dirinya berbagai macam posisi, posisi 69 pun tak lupa dipraktekkan dan Fitri menjadi murid yang cepat tanggap. Tidak bisa dihitung berapa kali Fitri mengalami orgasme, yang jelas Fitri begitu menikmati bahkan mungkin begitu ketagihan disetubuhi batang kemaluan yang begitu besar dan perkasa. Dan Pajangpun begitu puas bisa merealisasikan keinginannya menggauli Fitri yang sangat menggairahkannya. Pajang mengalami ejakulasi dengan penuh kenikmatan.
Setelah kejadian hari itu, Pajang selalu berusaha untuk bisa bertindak wajar seolah olah tidak terjadi sesuatu diantara mereka bahkan Pajang tidak terlalu memaksakan keinginannya untuk berhubungan seks kalau situasi tidak memungkinkan. Tetapi lain halnya dengan Fitri, terlihat ia begitu grogi setiap bertemu dengan Pajang terutama jika teman-temannya berada disampingnya, sulit sekali ia menutupi kegelisahannya. Sebagai seorang wanita perasaannya lebih banyak dikendalikan oleh emosinya. Setiapkali menatap Pajang walaupun Pajang berpakaian lengkap tetapi yang terbayang adalah tubuh kekarnya yang bertelanjang bulat dengan batang kemaluannya yang menantang.
Sejak hari itu Fitri tidak bisa lagi menahan keinginannya untuk tidak memadu kasih dengan Pajang. Da ketika libur, ia mencuri-curi waktu dan kesempatan untuk pergi ke tempat Pajang tanpa diketahui oleh teman-temannya. Pajang yang memang sengaja memanggil Fitri dengan mantra pengasihannya langsung menyambut memenuhi keinginan Fitri untuk bercinta. Saling lumat dan saling cumbu. Tangan Pajang meraba dan mengelus daerah sensitif Fitri, hingga pada puncaknya mereka saling jilat dengan posisi 69. Kepala Pajang membenam di selangkangan Fitri, menjilati dan menciumi vagina dan klitoris Fitri. Semantara Fitri juga sibuk mengocok batang kemaluan Pajang sambil mulutnya mengulum kepala batang kemaluannya, awalnya Fitri agak canggung dengan gaya permainan itu tapi Pajang yang berpengalaman membimbing Fitri untuk melakukannya. Fitri mulai terbiasa menerima penis Pajang di mulutnya, perlahan dia mulai meraih penis itu dan mengocoknya pelan. Lalu Fitri memajukan wajahnya, sambil melanjutkan kocokannya dia menyapukan lidahnya pada kepala penis itu.
Pajang mendesah merasakan belaian lidah Fitri pada penisnya serta kehangatan yang diberikan oleh ludah dan mulutnya. Fitri sendiri walaupun merasa tanpa disadari mulai terangsang dan mulai mengulum benda itu dalam mulutnya.
Fitri merasakan wajahnya makin tertekan ke selangkangan dan buah pelir Pajang yang berbulu lebat itu, penis di dalam mulutnya semakin berdenyut-denyut dan sesekali menyentuh kerongkongannya. Sekitar sepuluh menit lamanya dia harus melakukan hal itu, sampai Pajang menekan kepalanya sambil melenguh panjang.
Cairan putih kental itu menyembur deras di dalam mulutnya dan mau tidak mau, Fitri harus menelannya, rasanya yang asin dan kental itu membuatnya hampir muntah sehingga tersedak. Beberapa saat kemudian barulah semprotannya melemah dan berhenti. Fitri langsung terbatuk-batuk begitu Pajang mencabut penis itu dari mulutnya.
Memang Pajang adalah guru yang baik, akhirnya Fitripun terbiasa dan boleh dibilang piawai dalam melakukan oral seks sampai Pajang orgasme, dan spermanya menyembur keluar di wajah Fitri yang cantik. Fitri lalu merebahkan badannya dan terlentang. Pajang sambil mendekati Fitri, dia lalu berbaring di dekat Fitri. Pajang mulai membelai wajahnya dan menciumi pipinya, kumisnya yang kasar seperti duri menusuk-nusuk pipi Fitri yang halus. Pajang lalu menciumi bibir Fitri dengan gerakan lembut berulang-ulang sambil tidak lupa tangannya bergerak ke payudara Fitri yang kenyal dan lembut, payudara yang putih mulus itu dibelai-belai dan diremas dengan lembut, sesekali Pajang mempermainkan puting payudara Fitri yang berwarna pink segar dengan jari-jarinya. Fitri langsung terhanyut oleh perlakuan itu, gerakan-gerakan Pajang yang sangat berpengalaman membuat pertahanannya sedikit demi sedikit bobol. Perlahan Fitri mulai memberikan respon pada ciuman Pajang, tanpa disadari, Fitri mulai membuka mulutnya dan membiarkan lidah Pajang bermain-main dengan lidahnya, bahkan Fitri mulai ikut memainkan lidahnya sendiri dan membiarkan bibirnya berpagutan dengan bibir Pajang. Sambil terus berciuman, Pajang terus membelai dan meremas-remas payudara Fitri dengan lembut. Lalu Pajang mengarahkan ciumannya ke bagian leher Fitri. Fitri menerima perlakuan itu sambil mendesah pelan.
Pajang terus menciumi sekujur leher Fitri, lalu ciumannya bergerak menelusuri bagian payudara Fitri. Dengan lidahnya, Pajang menjilat-jilat payudara mulus itu dengan lembut, ujung lidahnya sesekali menyapu puting payudara Fitri membuat Fitri makin terangsang. Desahan nafasnya mulai memburu, wajah Fitripun mulai memerah. Fitri seperti berada di lautan kenikmatan yang maha luas dan akhirnya seperti biasanya pula batang kemaluan Pajang yang besar mengaduk liang kenikmatannya. Dan seperti yang didambakan Fitri, Pajang melambungkannya terbang melayang layang diawang awang menggapai puncak kenikmatan yang tertinggi. Gesekan penis di dalam vaginanya memberikan sensasi luar biasa pada sekujur tubuh Fitri membuatnya mengejang dan bergerak liar. Fitri benar-benar menikmati persetubuhan dengan Pajang. Dia membiarkan saja saat Pajang kembali menciumi bibirnya ditengah-tengah persetubuhan. Bahkan ketika Pajang menghentikan genjotannya, secara tidak sadar Fitri gantian menggerak-gerakkan pantatnya, dan Fitri pun menurut saja ketika Pajang menyuruhnya berganti posisi. Entah sudah berapa posisi yang dipraktekkan mereka. Fitri sendiri sudah mengalami berkali-kali orgasme, dia mendesah-desah menyebut nama Pajang, Sementara penis Pajang terasa semakin berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya dengan geraman panjang dia menumpahkan spermanya ke dalam rahim Fitri.
Dan hari-hari berikutnya Fitri makin sering berkunjung ke tempat Pajang, kesempatan itupun kembali digunakan Pajang untuk bisa menikmati kenikmatan tubuh Fitri yang memang sangat didambakannya. Fitri sendiri sudah begitu terlena oleh Pajang, selain oleh mantra pengasihan yang dimiliki Pajang juga merasakan kenikmatan yang luar biasa saat Pajang menyetubuhinya. Kini setelah kejadian itu, mereka selalu terlihat sering berdua. Fitri selalu datang ke kontrakan pajang sekedar untuk melepaskan unek-uneknya tentang masalah kampus namun bagi Pajang itulah saat baginya untuk menikmati kehangatan dan kemulusan tubuh Fitri. Pajang pun akhirnya menikmati tubuh Fitri yang merupakan calon perawat itu dengan sembunyi-sembunyi, Fitripun kini telah memutuskan hubungan dengan pacarnya dan ia menerima pajang sebagai calon suaminya.
Langganan:
Postingan (Atom)